Jumat, 06 November 2009

Darah III & V

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Darah merupakan bagian jaringan tubuh yang bersifat cair, karena zat-zat antar sel darah merupakan cairan. Sel-sel yang menyusun darah terdiri atas beberapa macam yang dapat dibedakan menurut bentuk, ukuran, serta fungsinya. Darah merupakan cairan dengan volume yang berbeda-beda tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh dan umur setiap oarang atau individu. Darah yang merupakan cairan dengan volume yang berbeda-beda tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh, dan umur yang setiap saat beredar ke seluruh bagian tubuh. Menghitung jumlah sel darah merah dan sel darah putih sangat penting untuk diketahui karena dengan itu kita dapat mengetahui tingkat kekabalan seseorang yang memiliki antibodi untuk melawan suatu jenis penyakit.
Sel darah merah merupakan bagian utama dari sel darah. Bentuknya bikonkaf dan berwarna kekuning-kuningan. Warna merah yang dimilikinya berasal dari haemoglobin. Hemoglobin mempunyai daya ikat yang sangat besar terhadap oksigen maupun senyawa besi henin. Maka baik kekurangan zat besi maupun kekurangan haemoglobin akan mengakibatkan warna pucat yang disebut dengan kekurangan darah atau anemia. Hemoglobin merupakan suatu zat organik yang terdapat dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen dalam darah. Hemoglobin merupakan zat yang menentukan warna pada darah. Darah yang mengandung banyak hemoglobin akan terlihat berwarna merah cerah, sedangkan darah yang kekurangan hemoglobin akan terlihat berwarna merah gelap. Hemoglobin mempunyai fungsi yang sangat penting bagi tubuh manusia dan hewan.
Atas dasar hal tersebut di atas dilakukan praktikum tentang darah untuk menentukan kadar hemoglobin dalam darah, nilai hematokrit, cara menghitung jumlah sel darah merah dan sel darah putih serta cara menghitung tekanan darah.

Tujuan dan Kegunaan
A. Menentukan Kadar Hemoglobin
Tujuan dari praktikum Kadar Hemoglobin adalah untuk mengetahui kadar hemoglobin, kadar hemoglobin normal darah manusia dan faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin normal.
Kegunaan dari praktikum Kadar Hemoglobin adalah agar kita dapat menghitung kadar hemoglobin dalam darah dan dapat menguasai penggunaan alat-alat perhitungan kadar hemoglobin darah dengan cara sahli dan kertas skala.
B. Kadar Nilai Hematokrit
Tujuan dari praktikum Kadar Nilai Hematokrit adalah untuk mengetahui persentase sel darah merah dalam suatu sampel darah yang digunakan.
Kegunaan dari praktikum Kadar Nilai Hematokrit adalah agar kita dapat mengetahui apakah seseorang menderita anemia atau tidak dengan menggunakan alat dan melihat nilai hematokrit tersebut.
C. Menghitung Jumlah Sel Darah Merah
Tujuan dari praktikum Menghitung Sel Darah Merah adalah untuk mengetahui cara menghitung jumlah sel darah merah adalah untuk mengetahui jumlah sel darah merah yang terdapat di dalam darah..
Kegunaan dari praktikum Menghitung Sel Darah Merah yaitu agar kita dapat mengetahui jumlah sel darah merah dan faktor-faktor yag dapat mempengaruhinya.
D. Menghitung Jumlah Sel Darah Putih
Tujuan dari praktikum Menghitung Sel Darah Putih adalah untuk mengetahui cara menghitung jumlah sel darah putih normal yang terdapat dalam setiap millimeter sel darah..
Kegunaan dari praktikum Menghitung Sel Darah Putih adalah agar kita dapat mengatahui jumlah sel darah putih dan faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah sel darah putih dalam setiap milimeter sel darah.
E. Tekanan Darah
Tujuan dari praktikum Tekanan Darah adalah untuk mengetahui tekanan dari darah tehadap dinding pembuluh darah.
Kegunaan dari praktikum Tekanan Darah adalah agar mengetahui tekanan darah tehadap dinding pembuluh darah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.























TINJAUAN PUSTAKA
A. Menentukan Kadar Hemoglobin
Hemoglobin adalah gabungan antara hemo dan globin yang mempunyai berat molekul 65.000. Hemo mempunyai 4% dari berat hemoglobin yang memberikan derajat kemerahan eritrosit. Hemoglobin disebut juga sebagai pigmen respirasi karena mempunyai peranan dalam mengangkut gas yang terlibat dalam proses respirasi yaitu O2 dan CO2. Hemoglobin adalah pigmen respirasi yang terdapat dalam eritrosit yang terdiri atas Hem dan Globin yang berperan dalam mengikat O2 untuk warna darah merah. (Sonjaya, 2008).
Hemoglobin adalah gabungan antara hemo dan globin yang mempunyai berat molekul 65.000. Hemo mempunyai 4% dari berat hemoglobin yang memberikan derajat kemerahan eritrosit. Hemoglobin disebut juga sebagai pigmen respirasi karena mempunyai peranan dalam mengangkut gas yang terlihat dalam proses respirasi yaitu O2 dan CO2. Tahapan pembentukan hemoglobin yaitu: Ketoglutorat + Glisin --------- 4 Fhenol, 4 Fhenol ----------Pototofirin III, pototofirin III + Fe --------- Heme, Heme + Globin --------- Hemoglobin (Rahardja, 2002).
Hemoglobin merupakan metalopratein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein, dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi. Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transpor oksigen dari paru-paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah menjadi berwarna merah (Anonima. 2009).


Hemoglobin merupakan molekul protein di dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen dari paru-paru ke tisu badan dan membawa karbondioksida dari tisu badan kepada paru-paru untuk dikeluarkan. Zat besi dalam bentuk Fe2+ dalam hemoglobin memberikan warna merah pada darah. Darah dalam keadaan normal 100 ml darah mengandung 15 gram hemoglobin yang mampu mengangkut 0,03 gram oksigen (Anonimb, 2009).
Hemoglobin adalah suatu pigmen berwarna kuning, tetapi efek keseluruhan hemoglobin adalah membuat darah berwarna merah. Hemoglobin mengandung sejumlah kecil besi dan besi ini esensial begi kesehatan, meskipun jumlah totalnya di dalam darah dikatakan hanya cukup untuk membuat paku sepanjang 2 inci. Hemoglobin memiliki daya tarik yang kuat terhadap oksige. Ketika darah melewati paru-paru, hemoglobin akan bergabung dengan oksigen dari uadar (membentuk oksihemoglobin) warnanya menjadi cerah. Hal ini menyebabkan warna darah yang teroksigenasi menjadi merah cerah. Ketika sel darah merah melewati jaringan, oksigen dilepaskan dar darah dan hemoglobin menjadi keruh (hemoglobin tereduksi), sehingga darah berwarna merah keungguan. Hemoglobin diukur dalam satuan gram per 100 ml. Nilai normalnya adalah 14-16 g per 100 ml (Watson, 2002).
Dari segi kimia, hemoglobin merupakan suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen pofirin merah, Masing-masing mengandung ataom besi ditambah globin, yang merupakan protein globular yang terdiri dari empat asam amino. Hemoglobin menggbung dengan oksigen udara yang terdapat di dalam paru-paru, hingga terbentuklah oksihemoglobin, yang selanjutnya melepaskan oksigen itu ke sel-sel jaringan di dalam tubuh. Karena adanya mioglobin, dalam darah mengandung sekitar 60 kali oksigen lebih banyak jika dibandingkan dengan air dalam jumlah dan kondisi yang sama (Frandson, 1999).
Hemoglobin (Hb), suatu protein dengan BM=64.500 D, berdaya mengikat oksigen dalam paru-paru dengan membentuk oxihemoglobin. Melalui sirkulasi darah, zat ini mencapai semua organ dan jaringan, disitu oksigen dilepaskan lagioleh.
adalah senyawa haem dengan protein globin, haem merupakan senyawa Fe + porfirin, yang inti molekulnya terdiri dari 4 cincin pyyrrol dengan atam Fe di pusatnya. Forofin dalam hati dirombak menjadi zat-zat warna empedu, antara lain biliburin dan urobilin, yang memberikan warna khas pada tinja. Hb merupakan timbunan besi yang utama pada tubuh. Hem (at) opoisesis, merupakan sel-sel darah yang mempunyai jangka waktu hidup yang relatif singkat (misalnya, eritrosit 120 hari), sehingga perlu diganti secara terus-menerus. Proses hemopoisis mencakup pembentukan lebih dari 200 miliyar (2x10 pangkat 11) sel darah seharinya. Jumlah ini dapat berlipat ganda pada saat kebutuhan meningkat. Faktor pertumbuhan yang mendorong pmbentukan hemoglobin adalah CSF (Clony stimulating Factor). Sedangkan Homepoietika atau zat-zat pembentuan darah adalah obat-obat khusus digunakan untuk merangsang atau memperbaiki proses pembentukan darah (Raharja, 2002).
Fungsi molekul Hb adalah untuk mengikat oksigen dan karbondioksida secara reversible. Peranan Hb sangat tergantung dari aoksigen (afinitas) pada paru-paru dan melepaskannya kapiler untuk berdifusi ke dalam sel. Oksigen akan terikat dengan Fe yang terdapat pada molekul Hb, dimana ikatan ini sangat longgar sehingga mudah lepas. Oksigen yang terikat pada Hb merupakan molekul oksigen yang mudah larut pada cairan tubuh. Iatan oksigen pada Hb akan menfasilitasi ikatan oksigen berikutnya dengan Hb, sampai terjadi saturassi. Afinitas Hb terhadap oksigen juga sangat tergantung darp Ph intrasel. Sel darah merah mengandung enzin carbonik andhydrase yang berfungsi mengubah CO2 menjadi H2CO3, merupakan asam lemah yang akan terionisasi menjadi ion H dan HCO3 sehingga pH intrasel akan menuru. Peningkatan konsentrasi ion H akan menyebabkan afinitas Hb terhadap O2 akan berkurang (Bhor effects) sehingga pelepasan oksigen ke jaringan akan berlangsung dengan mudah. Pada paru-paru, prosesnya terbalik; CO2 yang dikeluarkan dari Hb, akan menyebabkan pH meningkat, sehingga afinitas Hb terhadap O2 akan meningkat (Anonimc, 2009).


Hemoglobin melakukan fungsi utama dari sel darah merah dengan mengangkut oksigen ke jaringan dan mengembalikan karbondioksida (CO2) dari jaringan ke paru-paru. Kekurangan hemoglobin dapat menyebbkan kekurangan darah atau anemia. Suatu keadaan kronis , dimana kadar hemoglobin dan atau jumlah eritrosit berkurang. Seseorang dianggap menderita anemia bila kadar Hb < 8 mmol/1 pada pria atau <7 mnol/1 pada wanita (Rahardja, 2002).
Methionin meruapakn produk oksidasi yang sebenarnya dari hemoglobin yang tidak mampu mengangkut oksigen karena zat besi berada dalam struktur ferri (Fe+++) dan tidak mampu dalam status ferro (Fe++). Zat-zat kimia tertentu seperti nitrit dan klorat menghasilkan methemo globinemia (Frandson, 1999).
Hemoglobin memiliki afinitas untuk oksigen. Satu gram hemoglobin akan bergabung dengan 1,34 ml oksigen. Orang normal memiliki 14,5 g hemoglobin dalam setiap 100 ml darah. Dengan demikian, setiap 100 mldarah membawa 20 ml oksigen. Ketika darah melintasi kapiler paru, oksigen diambil dari udara dalam alveolus ke dalam eritrosit. Ketika darah melewati kapiler jaringan yang membutuhkan oksigen, oksihemoglobin melepaskan oksigen. Oksihemeglobin adalah hemoglobin yang berkombinasi dengan oksigen dan berwarna merah terang. Hemoglobin tereduksi adalah hemoglobin tanpa oksigen dan berwarna merah terang. Hemoglobulin tereduksi adalah hemoglobin tanpa oksigen dan berwarna biru gelap hampir hitam. Sebagian karbondioksida diangkut oleh eritrosit selain yang diangkut dalam plasma. Karbondioksida juga dapat berikatan hemoglobin. Proses pengambilan ini dipercepat oleh enzim karbonik anhidrase yang ada di dalam eritrosit. Selain itu jug afungsi lain hemoglobin adalah bagian dari sistem dapar (buffer) yang mengontrol pH tubuh (Gibson, 2003).
Tubuh pria mengandung 2,5-4 g besi (Ca 50 mg/kg) dan wanita sebelumya menopause ca 38 mg per kg, yang untuk 70% terdapat dalam eritrosit sebagai zat warna darah hemoglobin (Hb). Sisanya disimpan dalam sel-sel hati, limpa dan sum-sum tulang sebagai persediaan basi dari tubuh dalam bentuk kompleks besi-globulin: ferritin dan hemogliserin (500-1.500 mg) (Rahardja, 2002).
Pembentukan hemoglobin dalam sitoplasma sel yaitu bermula pada pembentukan sitoplasma sel dan besi diserap dari makanan melalui sel-sel epithel mukosa duodenal setelah makanan itu meninggalkan perut. Dari situ zat besi masuk ke kapiler daerah di dalam mukosa, dimana transferin-globin bergabung dengan dan membawa zat besi menuju sum-sum tulang sehingga menjadi bagian dari molekul home guna membentuk eritrosit. Sebagian kecilnya akan digunakan untuk membentuk mioglobin di dalam otot. Sekitar 25% bergabung dengan apoferitin di dalam sel-sel jaringan sehingga feritin yang mnerupakan bentuk cadangan sementara dari zat besi di dalam hati dan limfa. Zat besi ini hilang dari tubuh hewan melalui feses, urine, dan keringat. Pada hewan betina induk memberikan zat besi kapeda fetus pada saat kebungtingan dan kepada anak-anak yang sedang menyusui (Frandson, 1999).
Tahap Pembentukan Hb terjadi pada tahap proerythroblast sekitar hari ke 6-8 proses pematanagn sel darah merah, dan berlanjut terus dengan proses yang lebih lambat pada tahap retikulosit. Proses ini terjadi pada sel darah merah yang mempunyai inti. Berikut ini adalah gambar 7 proses pembentukan Hb :
A P

C C
I. 2 Succinyl-CoA + 2 Glycine HC CH

II. 4 pyrrole protorphyrin N
H
III. protoporphyrin IX + Fe++ heme (pyrrole)
IV. heme + polypeptida Hemoglobin cahain (@ atau ß)
V. 2 @ chains + 2 ß chains hemoglobin A.
Gambar 7. Proses Pembentukan Hemoglobin (Hb)


Pada gambar 7, dapat dilihat proses pembentukan Hb. Dari hasil penelitian dibuktikan bahwa bagian heme dari Hb di sentesis dari asam asetat dan glisin yang terjadi di mitokhondria. Asam asetat dan glisin yang terjadi di mitokhondria. Asam asetat diubah menjadi succinyl-CoA akan 2 molekul glisin membentuk pyrrole. Selanjutnya 4 komponen pyrrole akan membentuk protoporphyrin IX yang akan berkombinasi dengan Fe membentuk molekul heme akan melakukan kombinasi dengan globin yang dibentuk di ribosom, membentuk hemoglobin chain yang terdiri dari rantai @, rantai ß dan rantai γ. Dua rantai @ dan dua rantai ß akan memebentuk Hb A yang merupakan bagian terbesar dari Hb A yang merupakan bagian terbesar dari Hb yang merupakan bagian terbesar dari Hb yang terdapat pada orang dewasa normal. Hb pada janin (HbF) adalah @γ. Gangguan sintesa rantai @ dari globin akan menyebabkan penyakit thalassemia alfa, dan gangguan sintesis rantai ß akan menyebabkan thalassemia beta. Keduanya merupakan kelainan genetika. (Anonimc, 2009).
Pembentukan sitoplasma sel dan hemoglobin (Hb) terjadi bersamaan dengan proses pembentukan DNA dalam inti sel. Hemoglobin merupakan unsur terpenting dalam plasma eritrosit dan molekul Hb terdiri dari globulin, protoporfu-in dan besi. Globulin dibentuk disekitar mitokhondria. Besi didapat dari transferin. Pada permukaan sel eritrosit terdapat eritrosit reseptor transferin, gangguan dalam pengikatan besi untuk membentuk Hb akan mengikat terbentuknya eritrosit dengan sitoplasma yang kecil dan kurang mengandung Hb di dalamnya (hipokrom). Tidak berhasilnya sitoplasma sel eritrosit dengan sitoplasma yang berinti untuk mengikat Fe pada Hb disebabkan oleh rendahnya kadar Fe dalam darah dan juga rendahnya kadar transferin dalam darah (Anonimb, 2009).
Oleh karena Fe sangat penting untuk proses pembentukan Hb, mioglobin dan bahan-bahan lainnya seperti cytochromes, peroxidase, dan catalase, maka sangat penting untuk mengetahui bagaimana metabolisme Fe dalam tubuh. Jumlah Fe dalam tubuh 4 gram, kira-kira 65% terdapat pada Hb, 4% pada mioglobin dan sekitarnya 15-30% tersimpan terutama pada sistem retikuloendothelial dan sel parenkim hati dalam bentuk ferritin atau hemosiderin. Fe diabsorbsi dalam usus halus pada plasma darah akan segera berkombinai dengan apotransferrin membentuk transferrin yang selanjutnya di transfort dalam plasma dalam bentuk Fe bebas. Pada sitoplasma sel akan terbentuk ferritin yang merupakan cadangan Fe dalam tubuh. Fe juga tersimpan dalam bentuk yang tidak larut yaitu hemosiderin. Bila terjadi jumlah Fe dalam plasma sangat rendah, Fe akan diambil dari ferritin dengan sangat mudah. Bila diambil dari hemosederin agak sulit. Selanjutnya Fe akan ditransfort pada plasma oleh transferrin ke jaringan yang membutuhkannya. Besi dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin. Besi sangat sedikit diekskresi. Apabila sel darah merah pecah, besi disimpan dan kemudian dipergunakan kembali, namun sejumlah kecil besi harus terdapat di dalam diet (Siregar, 1995).
Tinggi rendahya suatu kadar hemoglobin dalam darah bergantung pada bebebrapa hal seperti usia, awal remaja, kandungan gizi seseorang. Namun tidak menutup kemungkinan ada faktor-faktor yang lain yang dapat meningkatkan dan menurunkan kadar hemoglobin dalam darah (Anonima, 2009).
Bila setelah mencapai usia tertentu (120 hari ), sel darah merah akan mengalami destruksi, maka Hb akan keluar dari sel, dan dicerna oleh makrofag, beberapa hari setelah perusakan Hb makrofag akan melepaskan kembali Fe dan Fe yang bebas disimpan dalam bentuk ferritin untuk digunakan kembali dalam pembentukan Hb. Phorpyrin dari molekul Hb akan diubah oleh makrofag menjadi bilirubin, Kehilangan Fe. Setiap hari, terutama melalui tinja. Pada wanita yang sedang haid kehilangan Fe kira-kira 2 mg setiap hari. Demikian pula pada saat menyusui. Hal ini menyebabkan wanita mempunyai kebutuhan Fe yang lebih banyak dibandingkan dengan Pria. Setiap gram Hb mengandung 3,4 mg Fe. Pada orang dewasa normal Nilai Hb adalah 14-16 g/dl, 100 ml darah mengandung 50 mg Fe. Untuk mengganti kehilangan Fe setiap hari diperlukan 20 mg Fe yang didapatkan dari makanan. Kekurangan Fe akan menyebabkan terjadinya anemia yang disebut anemia defisiensi Fe (Anonimc, 2009).


Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada makhluk hidup adalah jenis kelamin dimana pria jumlah hemoglobinnya lebih besar dari wanita, dimana jumlah sel darah merah pada pria lebih banyak yakni sekitar 5.440.000/mm³ dibanding dengan jumlah sel darah merah pada wanita yakni ± 4.800.00/mm³, faktor kedua adalah spesies, jumlah sel darah merah, ketinggian tempat dimana untuk menjaga keseimbangan tubuh dan kadar Hb stabil, maka sumsum memproduksi sel darah merah lebih banyak dibandingkan dengan orang tinggal di dataran rendah, dan kondisi kesehatan individu dimana jumkah hemoglobin biasanya dibawah atau 30 atau sekitar 5 gr per ml darah. Selain dipengaruhi oleh diferensiasi zat besi gizi tekanan kurang baik, kekurangan asam folat, vitamin C yang kurang, kekurangan vitamin B12 dan hemolisa sel darah merah dapat menyebabkan anemia (Frandson, 1992).
Kadar hemoglobin pada pria lebih besar dari kadar hemoglobin pada wanita, dimana kadar hemoglobin yang normal pada pria sebesar 14-18% dan pada wanita 12-15%. Hal ini disebabkan karena perbedaan kadar hemoglobin ditentukan oleh jenis kelamin dan jumlah sel darah. Selain itu juga, faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin adalah jumlah sel darah, ketinggian tempat, dan tingkat kesehatan. bahwa kadar hemoglobin yang normal pada pria sebesar 14-18% dan pada wanita 12-15% (Siegar, 1995).
Kadar hemoglobin dalam darah menggunakan satuan gram/dl, yang artinya banyaknya gram hemoglobin dalam 100 milimeter darah. Nilai normal hemoglobin tergantung pada umur seseorang antara lain (Anonima, 2009) :
- Bayi baru lahir : 17-22 gr/dl
- Umur 1 minggu : 15-20 gr/dl
- Umur 1 bulan : 11-15 gr/dl
- Anak-anak : 11-13 gr/dl
- Laki-laki dewasa : 14-18 gr/dl
- Perempuan dewasa : 12-16 gr/dl
- Laki-laki tua : 12,4-14,9 gr/dl
B. Nilai Hematokrit
Hematokrit adalah persentase tingginya eritrosit dalam plasma yang ditentukan setelah darah disentrifunge dalam suatu tabung. Nilai normal pada pria 36-48%, wanita 36-45%, dan anak-anak 38-70%. Pada orang yang bermukim di gunung, nilainya bisa naik sampai 45-55%, juga pada pecandu alkohol dan pasien tumor ginjal tertentu (akibat produksi EPO berlebihan). Nilai lebih rendah dari nilai normal ditemukan pada pasien anemia dan gangguan ginjal tertentu, juga pada wanita hamil. Hematocrit pada pagi hari bernilai 5% lebih ringan daripada siang hari, maka penggontrolan para peserta hari. Nilai hematokrit tidak boleh melebihi 50% (Rahardja, 2002).
Nilai hematokrit adalah persentase volume endapan eritrosit setelah sampel darah dipindahkan dalam waktu dan kecepatan tertentu. Nilai hematokrit pada mikro-capilary untuk putra lebih besar dari nilai hematokrit pada putri begitu pula dengan mikro-hematokrit. Hal ini dapat disebabkan oleh tingkat aktivitas yang dilakukan oleh individu, jenis kelamin dan jumlah sel darah merah. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hematokrit adalah jenis kelamin, jumlah sel darah merah, aktivitas dan keadaan fisiologis (Siregar, 1995).
Nilai hematokrit atau volume sel packed adalah suatu istilah yang artinya persentase (berdasarkan volume) dari darah yang terdiri dari sel-sel darah merah. Penentuan nilai hematokrit dilakukan dengan mengisi tabung hematokrit dengan darah yang diberi zat agar tidak menggumpal, kemudian dilakukan sentrifusi sampai sel-sel menggumpal di bagian dasar. Nilai hematokritnya kemudian dapat diketahui secara langsung ataupun secara tak langsung dari tabung itu. Jika seseorang mempunyai nilai hematokrit 40 artinya 40% dari volume darah adalah sel-sel darah. Rataan hematokrit laki-laki normal 42, sementara pada wanita normal 38. Nilai hematoktrit pada domba adalah 32, anjing 45, sapi 40, dan pada kuda dan babi 42. Nilai hematokrit biasanya dianggap sama manfaatnya dengan hitungan sel darah merah total dan pelaksanaannya juga jauh lebih muda. Faktor yang mempengaruhi nilai hematokrit adalah apakah orang itu menderita anemia atau tidak, tingkat aktivitas tubuh dan ketinggian tempat dimana orang itu tinggal. Nilai hematokrit normal pada laki-laki adalah 40-50%, sedangkan pada wanita adalah 35-45% (Frandson,1999).
Protein plasma terdiri dari dua keadaan utama yaitu albumin dan globulin. Fraksi globulin dapat dibagi menjadi alfa, beta, dan gamma globulin, alfa dan beta globulin disintesis dalam hati, gamma globulin disintesis oleh sel plasma dan limfosit pada saat sel-sel ini dirangsang oleh antigen. Umumnya antibody yang telah diketahui termasuk dalam fraksi gamma globulin, albumen adalah protein yang paling melimpah di dalam plasma yang merupakan protein utama yang dihasilkan oleh hati. Albumen berperan penting di dalam pengikat dan transport berbagai zat di dalam darah dan bertanggung jawab pada sekitar 80% tekanan osmotic potensial dari plasma (Sonjaya, 2008).
Plasma darah dapat diperoleh dengan cara, darah yang telah dimasukkan ke dalam pipa kapiler yang telah ditambahkan antikoagulan dimasukkan ke dalam Mikro-centrifuge selama 1 menit, setelah 1 menit darah yang berada berada dalam pipa kapiler telah terpisah antara sel darah dan plasma darah (Anonimc, 2009)
Nilai hematokrit adalah persentase volume endapan eritrosit setelah sampel darah dipisahkan dalam waktu dan kecepatan tertentu. Nilai hematokrit adalah panjangnya endapan sel darah merah yang dinyatakan dalam persentase volume darah di dalam tabung hematokrit, nilai ini berbanding lurus dengan jumlah sel darah, maka semakin tinggi nilai hematokrit semakin tinggi pula perbandingan komponen-komponen dan plasma (Siregar, 1995).
Penentuan nilai hematokrit dilakukan dengan mengisi tabung hematokrit dengan darah yang diberi zat agar dapat menggumpal, selanjutnya dilakukan sentrifusi sampai sel-sel menggumpal diatas bagian dasar kemudian dapat diketahui secara ataupun secara tidak langsung dari tabung-tabung tersebut, jika seseorang mempunyai nilai hematokrit 40 artinya 40% dari volume darah adalah sel-sel darah. Jumlah hematokrit pada laki-laki normal adalah 42, sedangkan untuk wanita normalnya adalah 38, nilai hematokrit pada domba adalah 32, anjing 45, sapi 40 dan pada babi, kuda adalah 42 (Frandson, 1992).
Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa dan pemikiran fisik yang teliti, hemokonsentrasi adalah kebalikan dari anemia yang berarti bahwa rasio sel-sel darah merah terhadap cairan berada diatas normal yang merupakan sel yang paling banyak dibandingkan dengan 2 sel lainnya, dalam keadaan normal mencapai hampir separuh dari volume darah. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan sel darah merah membawa oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen dipakai untuk membentuk energi bagi sel-sel, dengan bahan limbah berupa karbon dioksida, yang akan diangkut oleh sel darah merah dari jaringan dan kembali ke paru-paru (Rahardja, 2002).
Hemokonsentrasi adalah kebalikan anemia yang berarti bahwa rasio sel-sel darah merah terhadap cairan di atas normal. Hal ini ditunjukkan oleh hitungan sel darah merah yang sangat tinggi atau nilai hematokritnya yang tinggi. Jumlah sel-sel darah merah dalam tubuh dapat meningkat (suatu keadaan yang disebut polisit polisiternia), atau banyaknya cairan yang justru menurun (Mikrajuddin, 2004).
Untuk memperbaiki keadaan dehidrasi diperlukan suplai air kepada hewan yang bersangkutan dalam bentuk larutan garam fisiologi atau larutan glukose secara parental. Ini berarti bahwa larutan tersebut diberikan melalui jalur selain mulut, karena hewan yang sedang muntah apabila diberi minum akan terangsang untuk muntah lagi. Larutan tadi dapat disuntikkan hipodermis atau dengan cara intro peritoneal (Frandson, 1999).
Nilai hematokrit merupakan untuk menetukan persentase sel-sel darah didalam tubuh, baik pada volume, jumlah sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit). Nilai hematokrit darah ditentukan dengan cara memusing (mensentifugre) darah dalam tabung hematokrit yang telah dikalibrasi, jika seseorang mempunyai nilai hematokrit 40, artinya 40% dari volume darah adalah sel-sel darah, rataan hematokrit laki-laki normal adalah 42 sedangkan pada wanita normalnya adalah 38, factor yang mempengaruhi nilai hematokrit adalah apakah orang itu menderita anemia atau tidak, tingkat aktivitas tubuh dan ketinggian tempat orang itu tinggal (Anonim d, 2009).
Hematokrit darah adalah persentase darah yang berupa sel, jadi bila orang mengatakan bahwa seseorang mempunyai hematokrit 40, ini berarti bahwa hematokritnya 40% dari suatu volume darah. Volume darah pada pria normal rata-rata 42 sedangkan pada wanita normal adalah 38. Nilai hematokrit normal pada laki-laki adalah 40-50%, sedangkan pada wanita adalah 35-45% (Frandson, 1999).
Hematokrit adalah volume SDM di dalam darah yang dinyatakan dengan
persentase volume seluruh darah (misalnya, sel saja tanpa cairan atau "plasma" darah). Nilai normalnya berkisar dari 40-54% pada laki-laki dan 37-47% pada wanita. Nilai hematokrit menunjukkan kekentalan darahy ang sebanding dengan jumlah oksigen yang dibawanya. Persentase hematokrit yang rendah juga merupakan pertanda anemia. Nilai hematokrit merupakan cara yang paling sering digunakan untuk menentukan apakah jumlah sel darah merah terlalu tinggi, terlalu rendah atau normal. Hematokrit sejatinya merupakan ukuran yang menentukan seberapa banyak jumlah sel darah merah dalam satu mililiter darah atau dengan kata lain perbandingan antara sel darah merah dengan komponen darah yang lain. Hematokrit dapat dihitung dengan mengambil sampel darah pada jari tangan atau diambil langsung pada vena yang terletak pada lengan. Sel darah merah yang terdapat dalam sampel kemudian diendapkan dengan cara memutarnya menggunakan alat sentrifugal. Endapan ini kemudian di presentasekan dengan jumlah keseluruhan dari darah yang terdapat dalam tabung, nilai inilah yang dinamakan nilai hematokrit.
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hematokrit adalah jenis kelamin, spesies, jumlah sel drah merah, aktivitas dan keadaan patologis. Jumlah sel darah merah pada pria lebih banyak jika dibandingkan dengan wanita, apabila jumlah sel darah merah meningkat atau banyak maka jumlah nilai hematokrit juga akan mengalami peningkatan. Selain itu, ketinggian tempat juga mempengaruhi nilai hematokrit, karena pada tempat yang tinggi seperti pegunungan kadar oksigen dalam udara berkurang sehingga oksigen yang masuk ke dalam paru-paru berkurang, oleh karena itu supaya terjadi keseimbangan maka sumsum tulang belakang memproduksi sel-sel darah merah dalam jumlah yang banyak (Anonimc,2009).
Hitungan sel darah merah yang sangat tinggi atau nilai hematokritnya yang tinggi, jumlah sel-sel darah yang ada dalam tubuh dapat meningkat (suatu keadaan yang disebut polisiternia), atau banyaknya cairan yang justru menurun baik karena penurunan jumlah air yang diminum ataupun naiknya air yang hilang dari tubuh yang dapat menyebabkan munculnya hemokonsentrasi, yang berarti akibat dari keadaan yang disebut dehidrasi (Rahardja, 2002).
Penentuan nilai hematokrit dilakukan dengan mengisi tabung hematokrit dengan darah yang diberi zat agar dapat menggumpal, selanjutnya dilakukan sentrifusi sampai sel-sel menggumpal diatas bagian dasar kemudian dapat diketahui secara ataupun secara tidak langsung dari tabung-tabung tersebut. Jika seseorang mempunyai nilai hematokrit 40 artinya 40% dari volume darah adalah sel-sel darah. Jumlah hematokrit pada laki-laki normal adalah 42, sedangkan untuk wanita normalnya adalah 38, nilai hematokrit pada domba adalah 32, anjing 45, sapi 40 dan pada babi, kuda adalah 42 (Frandson, 1992).
Dalam menhitung nilai hematokrit terdapat dua cara yaitu cara Wintrobe dan mikro-hematokrit. Metode untuk mengukur nilai hematokrit terdiri dari dua cara yaitu dengan cara Wintrobe dan mikro-hematokrit, cara wintrobe menggunakan zat antikoagulan tabung wintrobe dan centrifuge, sedangakan pada cara mikro-hematokrit memekai tabung atau pipa kapiler, tabung centrifuge khusus dengan kecepatan putaran lebih dari 10.000 rpm dan pembacaan nilai hematokrit digunakan pula nilai yang khusus (Gibson, 2002).



C. Menghitung Jumlah Sel Darah Merah
Sel-sel darah merah atau eritrosit (bahasa yunani: eritro = merah, sit = sel) adalah sel-sel diameter rata-ratanya sebesar 7,5 dengan spesialisasi untuk pengangkutan oksigen. Sel-sel ini merupakan cakram (disk) yang bikonkaf, dengan pinggiran sirkuler yang tebalnya 1,5 pusatnya yang tipis. Cakram bikonkaf tersebut mempunyai permukaan yang relatif luas untuk pertukaran oksigen melintasi membran sel (Frandson, 1999).
Sel darah merah adalah cakram bikonkaf dengan diameter sekitar 8,6µm. Bikonkavitas memungkinkan gerakan-gerakan oksigen masuk dan keluar sel dengan cepat, dengan adanya jarak yang pendek antara membran dan isi sel. Sel darah merah tidak memiliki nukleus. Eritrosit terdiri dari Membran luar, hemoglobin (Hb) protein yang mengandung besi, karbonik anhidrase, enzim yang terlibat dalam transfort karbondioksida (Gibson, 2003).
Sel darah merah tidak memiliki nucleus, tetapi berisi suatu protein khusus yang disebt hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu pigmen berwarna kuning, tetapi efek keseluruhan hemoglobin adalah membuat darah berwarna merah. Hemoglobin mengandung sejumlah kecil besi dan besi ini esensial bagi kesehatan, meskipun jumlah totalnya di dalam darah dikatakan hanya cukup untuk membat paku sepanjang 2 inci. Dalam kondisi sehat, hamper semua sel darahmerah di dalam darah seharusnya berbentuk eritrosit, dengan hanya sedikit retikulosit. Banyak factor yang menentukan pembentukan normal sel darah merah (Watson, R 1997).
Eritroblas adalah sel besar yang mengandung inti dan sejumlah kecil hemoglobin. Sel ini kemudian berkembang menjadi normoblas yang berukuran lebih kecil. Inti sel kemudian mengalami disintegrasi dan menghilang sitoplasma mengandung benang-benang halus. Pada stadium ini sel tersebut disebut retikulosit, akhirnya, benag-benang menghilang dan menjadi eritrosit matang yang segera dilepas ke aliran darah (Anonim, 2009).

Jika dilihat dibawah miskroskop, bentuk sel darah merah seperti cakram/bikonkaf dan tidak mempunyai inti dengan ukuran 0,007µm, tidak bergerak, banyaknya kira-kira 4,5-5 juta/mm3, warnanya kuning kemerah-merahan, sifatnya kenyal sehingga bisa berubah bentuk sesuai dengan pembuluh darah yang dilalui. Di dalamnya mengandung hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen, membawa karbondioksida darui paru-paru kemudian dikeluarkan. Jumlah hemoglobin dalam masong-masing sel darah adalah normal. Drah mengandung rata-rata 15 gram, setiap gram mampu mengikat 1,39 ml oksigen. Pada orang normal, hemoglobin dapat mengangkut 20 ml oksigen dalam 100 ml darah (Syaifuddin, 2002).
Fungsi sel darah merah adalah membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida dari jaringan ke paru-paru. Ini adalah fungsi-fungsi sel darah merah dan fungsi ini tergantung pada jumlah hemoglobin yang terkandung didalamnya. Apabila terdapat kekuragan hemoglobin, baik karena penurunan sel darah merah ataupun karena setiap sel darah merah mengandung sedikit hemoglobin, individu tersebut dikatakan menderita anemia (Watson, 2002).
Jumlah sel darah normal pada pria adalah 5.200.000 mm3, sedangkan pada wanita yaitu 4.700.000 mm3. Jumlah sel darah merah pada beberapa jenis ternak yaitu pada domba sebesar 11.000.000 mm3 sedangkan pada sapi, kuda, dan babi sebesar 7.000.000 mm3(Gibson, 2002)
Jumlah sel darah merah merupakan bagian utama dari komponen darah, dimana setiap mililiter kubik pada darah laki-laki dewasa mengandung kurang lebih 5.000.000 sel darah merah dan pada wanita mengandung 4.000.000 sel darah merah, dimana sel darah merah ini berfungsi sebagai pengangkut oksigen dan juga mempertahankan suhu tubuh dan bila terserang anemia maka sel darah merah akan berwarna kuning. Jumlah sel darah merah dipengaruhi oleh jenis spesies. Oleh karena itu jumlah sel darah merah pada setiap individu termasuk ternak berbeda pula. Jumlah sel darah merah pada domba yaitu 11.000.000 mm3, sedangkan pada sapi, kuda, dan babi yaitu 7.000.000 mm3 (Frandson, 1999).
Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penurunan jumlah sel darah merah pad seseorang dapat terjadi karena orang tersebut menderita anemia dan hemokonsentrasi disebabkan karena penurunan jumlah air yang diminum atau banyaknya jumlah air yang diminum, sedangkan anemia disebabkan di bawah normal. Hemokonsentrasi disebakan oleh penurunan jumlah air atau peningkatan jumlah air di dalam tubuh, sedangkan anemia disebabkan karena berkurangnya sel darah merah di dalam tubuh (Frandson, 1999).
Jumlah sel darah merah dipengaruhi oleh spesies, oleh karena itu jumlah sel darah merah pada setiap individu termasuk ternak berbeda pula. Dimana pada ternak, misalnya domba memiliki sel darah merah 11.000/mm3, sapi, kuda dan babi 7.000.000/mm3 (Frandson, 1999).
Larutan yang digunakan sebagai larutan pengencer dalam menghitung jumlah sel darah merah yaitu larutan hayem. Larutan hayem adalah larutan pengencer yang berfungsi mengencerkan sel-sel darah merah, sehingga mempermudah dalam perhitungan sel darah merah pada kamar hitung yang selanjutnya dapat dilihat di bawah mikroskop (Sonjaya, 2008).
Untuk dapat menghitung jumlah sel darah merah dapat dilakukan dengan metode kamar hitung dan diamati dibawah miskoskop. Drah terlebih dahulu diencerkan di dalam tabung reaksi kemudian dimasukkan dalam kamar hitung, jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu. Untuk mengencerkan sel darah merah digunakan larutan hayem, larutan ini berfungsi untuk mengencerkan sel darah merah. Larutan hayem terbuat dari komposisi mercury chlorida 0,5gr, natrium sulfat 5 gr, natrium chlorida 1 gr dan aquades sebanyak 100 ml (Mikrajuddin, 2004).
Hitungan darah menyajikan suatu produser laboratoris yang berguna untuk memperkirakan jumlah dan jenis-jenis sel dalam darah yang bersirkulasi suatu hewan pada waktu tertentu. Hitungan sel total dinyatakan dalam jumlah sel dalam milimeter kubik darah. Hitungan ini berlaku baik untuk sel darah merah atau sel darah putih, meski terkait dengan peralatannya agak berbeda. Hitungan sel darah merah total ditentukan dengan mengencerkan suatu jumlah darah dengan menggunakan suatu jenis pengencer darah tertentu. Dalam suatu pipet sel darah merah untuk menghasilkan suatu larutan satu bagian darah dengan 200 bagian cairan pelarut. Darah beserta cairan pelarut itu dicampur merat di dalam suatu pipet khusus dan kemudian dimasukkan ke dalam suatu ruang perhitungan dari suatu slide khusus dengan kedalaman 0,1 mm. Satu milimeter persegi ruangan hitung terbagi menjadi 400 bujur sangkar yang lebih kecil. Sel darah merah dihitung jumlahnya di dalam bujur sangkar atau suatu bagian tertentu daripadanya. Jumlah sel-sel merah yang terhitung dikalikan dengan angka-angka yang sesuai untuk mendapatkan jumlah keseluruhan sel merah di dalam satu milimeter kubik darah yang diencerkan, dan angka itu kemudian dikalikan dengan pengenceran untuk mendapatkan jumlah sel-sel merah dalam satu kubik darah asli. Kebanyakan spesies jenis ternak mempunyai hitungan sel darah merah sekitar 7 juta/mm3 (Frandson, 1999).
Hemofilia defisiensi dari faktor pembekuan darah namun sangat jarang sekali terjadi. Defisiensi tersebut disebabkan dari faktor VII (antihemofiliaglobulin) dan faktor IX (Chistmas-faktor). Hemofilia A jauh lebih sering terdapat dibandingkan hemofilia B (85% dibanding 15%). Kedua gangguan bersifat keturunan dengan gen resesif. Pada kromosom X. Khususnya menghinggapi pria, jarang sekali wanita, yang umumnya menjadi pembewa gen dan dapat menurunkan pada anak lelakinya. Gejalanya berupa pendarahan yang sukar dihentikan dan diiringi rasa sangat nyeri seperti akibat kecelakaan atau pembedahan. Pada kasus agak berat, bahkan bisa timbul pendarahan spontan dan pembebanan berlebihan terutama di persendian. Pendarahan sendi ini akhirnya dapat mengakibatkan deformasi sendi hebat (Rahardja, 2002).
Anemia (Bahasa yunani An = tanpa, emia = darah) terjadi apabila jumlah darah merah yang fungsional atau jumlah hemoglobin berkurang lebih jauh dibawah keadaan normal. Anemia dapat terjadi karena pembentukan darah yang kurang memadai karena gizi yang tidak baik, termasuk di sini adalah adanya defisiensi zat besi, Cu, vitamin, dan asam amino di dalam makanan. Anemia dapat pula disebabkan oleh hilangnya darah oleh pendarahan dari luka atau karena parasit seperti cacing perut ataupun kutu. Penyebab lainnya adalah kekurangan sekresi faktor interinsik dari perut, faktor lainnya adalah memungkinkan daat berlangsung penyerapan vitamin B12. Anemia juga terjadi apabila sel-sel darah merah mengalami hemolisa yang lebih cepat dibandingkan dengan pembentukannya yang baru, atau apabila sel-sel darah merah tidak berhasil menjadi masak secara normal (Frandson, 1999).
Anemia bepengaruh besar terhadap sistem vaskuler. Seperti yang telah dikemukakan kapasitas mengangkut oksigen berkurang. Juga menurunkan konsentrasi sel darah merah berarti bahwa viskositas darah juga menurun, karenanya aliran darah menjadi lebih cepat. Hipoksia terjadi pada tingkat jaringan yang merangsang jantung untuk memompa lebih cepat untuk mencoba memberikan oksigen lebih banyak. Jantung mengalami stress jkarena bekerja lebih berat. Apabila kemudian hewan itu bekerja atau melakukan latihan fisik yang keras, jantung mampu mensuplai oksigen yang cukup kepada jaringan dan efisiensi jantungpun menurun, yang dapat menimbulkan gangguan jantung yang akut (Frandson, 1999).
Hifofiksa (ekurangan oksigen dalam jaringan) yang disebabkan penguragan transfor oksigen oleh darah yang dapat menyebabkan pembuluh-pembuluh jaringan melebar dan diikuti oleh pengembalian darah ke pembuluh jantung. Lebih lanjut, meningkatkan curah jantung lebih tinggi. Salah satu efek utama anemia adalah menimbulkan peningkatan beban kerja jantung. Peningkatan curah jantung pada anemia membawa sedikit oksigen maka kecepatan aliran darah dapat meningkat sedemikian rupa sehingga jantung tidak mampu lagi memompa darah lebih banyak dan payah jantung yang akut (Watson, 2002).
Pengurusan eritrosit terjadi setelah tiga sampai empat bulan dalam sirkulasi. Sel-sel didisintegrasikan dan dipindahkan dari sirkulasi oleh sistem retikuloendhothelium yang mengandung sel-sel khusus dalam hati, limpa, sumsum tulang dan node lympa. Produk yang dihasilkan dari pengrusakan sel darah merah adalah pigmen bilirubin dan biliverdin yang disekresikan oleh kelenjar hati ke empedu. Besi bebas digunakan untuk meresintesa hemoglobin (Sonjaya, 2008).
Sel darah merah mengandung banyak haemoglobin. Darah berwarna merah sebab haemoglobin berwarna merah tua. Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit menderita penyakit anemia.Sel darah merah dihasilkan dilimpa atau kura, hati dan sumsum merah pada tulang pipih. Sel darah merah yang sudah mati dihancurkan di dalam hati. Fungsi sel darah merah yaitu membawa oksigen dari paru-paru keseluruh jaringan tubuh, membawa karbondioksida dari seluruh jaringan tubuh ke paru-paru. Sel darah merah mengikat oksigen dan karbondioksida disebabkan adanya hemoglobin. Ketika hemoglobin mengikat oksigen maka darah berwarna merah cerah, sedangkan ketika mengikat karbondioksida maka darah akan berwarna merah kebiruan. Eritrosit adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh lewat darah dalam hewan bertulang belakang. Sel darah merah adalah salah satu contoh sel yang tidak berinti. Sel darah merah berbentuk pipih dan cekung pada bagian tengahnya, tidak memiliki inti, tidak dapat menembus dinding kapiler darah dan berwarna kekuning-kuningan (Watson, 2002)
Sel darah merah diproduksi didalam sum-sum merah pada tulang spongiosa yang terdapat pada ujung tulang panjang dan didalam tulang pipih dan tidak regularSel darah merah hidup dalam sirkulasi selama sekitar 120 hari, kemudian dimakan oleh sel-sel pada system monosit di dalam limfa dan kelenjar limfe. Di sini hemoglobin dipecah menjadi komponen-komponenya dan kemudian dibawah kedalam hati. Globin dikembalikkan ke gudang protein dan ekskresi dalam urine setelah dipecah lebih lanjut (Anonimc, 2009).
Sel darah merah merupakan komponen darah yang terbanyak dalam satu mililiter darah. Setiap orang memiliki jutaan bahkan miliaran sel darah merah dalam tubuhnya. Penghitungan sel darah merah digunakan untuk menentukan apakah kadar sel darah merah rendah (anemia) atau tinggi (polisitemia). Pada perhitungan sel darah merah, akan dinilai jumlah dan ukuran dari sel darah merah. Bentuk sel darah merah pun akan dievaluasi di bawah mikroskop. Segala informasi mulai dari jumlah, ukuran dan bentuk dari sel darah merah akan berguna dalam mendiagnosa suatu anemia. Juga pada pemeriksaan ini dapat diketahui jenis anemia berikut kemungkinan penyebabnya (Frandson, 1999).
Eritrosit tidak mempunyai nukleus sel ataupun organela, dan tidak dianggap sebagai sel dari segi biologi. Eritrosit mengandung hemoglobin dan mengedarkan oksigen. Sel darah merah juga berperan dalam penentuan golongan darah. Orang yang kekurangan eritrosit menderita penyakit anemia. Sel darah merah berwarna merah ke kuningan. Warna merah itu berasal dari hemoglobin. Sel darah merah dapat mengikat oksigen karena adanya hemoglobin. Selain itu, sel darah merah dapat mengkatalisis reaksi antara CO dan air karena sel darah mengandung anhidrase karbonat dalam jumlah besar. Reaksi ini memungkinkan darah bereaksi dengan sejumlah besar CO, dan mengangkutnya dari jaringan ke paru – paru (Anonimc, 2009).
Hitungan darah menyajikan suatu prosedur Laboratoris yang berguna untuk memperkirakan jumlah dan jenis-jenis sel dalam darah yang besirkulasi pada waktu tertentu. Hitungan sel total dinyatakan dalam jumlah millimeter kubik darah, hitungan ini berlaku baik untuk sel darah merah atau sel darah putih, meskipun teknik dan peralatannya berbeda. Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila di oksigen kepada merah tua apabila tiada oksigen. Warnanya disebabkan oleh hemoglobin, protein pernafasan (respiratory protein) yang mempunyai besi dalam bentuk heme, tempat oksigen bergabung. Darah pada tubuh manusia mengandung 55% plasma darah (cairan darah) dan 45% sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah yang ada pada tubuh kita yaitu sekitar sepertiga belas berat tubuh orang dewasa atau sekitar 4-5 liter. Darah mengedarkan oksigen melalui paru - paru, dan disebarkan ke seluruh tubuh oleh saluran arteri. Darah mengedarkan oksigen keseluruh badan melalui saluran halus darah yang dipanggil kapillari. Darah kemudian kembali ke jantung melalui vein (Watson, 2002).

D. Menghitung Jumlah Sel Darah Putih
Sel darah putih atau leukosit (bahasa yunani ; leuko=putih, sit=sel) sangat berbeda dari eritrosit karena adanya nukleus dan memiliki kemampuan gerak yang independent (Frandson, 1999).
Sel darah putih berbentuk tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sum-sum marah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya memberantas kuman-kuman penyakit. Sel darah putih atau leukosit berukuran lebih besar daripada sel darah merah, diameternya sekitar 10µm, dan jumlahnya lebih sedikit teradpat 7-10 X 109 leukosit per liter darah dan jumlah in bias meningkat sampai 30 X 109 per liter darah bila ada infeksi di dalam badan. Peningkatan ini dikenal sebagai leukositosis. Sel darah putih berbentuk tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sum-sum marah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya memberantas kuman-kuman penyakit (Watson, R 1997).
Fungsi utama sel darah putih adalah sebagai pertahanan tubuh dengan cara menghancurkan antigen. Sebagai pertahanan tubuh, leukosit dikerahkan ke tempat-tempat infeksi dengan jumlah berlipat ganda. Leukosit dapat bergerak dari pembuluih darah menuju jaringan, saluran limfe dan kembali lagi ke dalam aliran darah. Leukosit bersama sistem makrofag jaringan atau sel retikuloendotel dari hepar, limpa, sumsum tulang, alveoli, mikroglia otak dan kelenjar getah bening melakukan fagositosis terhadap kuman dan virus yang masuk. Setelah di dalam sel, kuman/virus dicerna dan dihancurkan oleh enzim pencernaan sel(Anonimd, 2009).
Dlam pematangan sel-sel leukosit sel-sel yang masih muda hanya dapat dijumpai di sum-sum tulang. Tahapan sel-sel tersebut pada masing-masing seri akan dilampaui penyajiannya. Untuk mengetahui miskroskopis jenis-jenis leukosit dibutuhkan sediaan apus darah yang telah diwarnai dengan baik dibawah miskroskop. Mula-mula mencari lapangan atau daerah pandang yang lebih baik yang banyak mengandung leukosit dan tersebar merata. Sesudah itu dilakukan pemeriksaan dihitung jenis dengan memakai lensa objektik 40X. Dengan lensa ini biasanya morfologi masing-masing leukosit. Dalam hal ini jumlah suatu zat leukosit dinyatakan sekian persen dari jumlah suatu zat leukosit dinyatakan sekian persen dari 100 buah sel yang nampak dan terhitung di bawah miskroskop. Jumlah absolut masing-masing jenis leukosit adalah : (Kamalia, 2002)
- Eosinofil : 2,4%
- N-batang : 3-5%
- Limfosit :23-25%
- Monosit :3-6%
Masa hidup sel-sel darah putih sangatlah bervariasi mulai beberapa jam untuk granulosit, sampai bulanan untuk monosit dan bahkan tahunan untuk limfosit. Di dalam aliran darah kebanyakan sel-sel darah putih bersifat nonfungsional dan hanya diangkut ke jaringan ketika dan dimana dibutuhkan saja (Anonimd, 2009).
Sel darah putih pada putra lebih besar dari jumlah sel darah putih pada putri. Hal ini disebabkan karena perbedaan jenis kelamin dan aktivitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah sel darah putih adalah jenis kelamin, dimana pria mempunyai jumlah sel darah merah lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sel darah putih, aktivitas juga mempengaruhi jumlah sel darah putih, meningkatnya jumlah sel darah putih umunmya merupakan pertanda adanya infeksi, feukofenia atau berkurangnya jumlah total sel darah putih dari yang normal biasanya lebih cenderung bersifat patologis jumlah sel darah putih normal pada manusia adalah 5000-9000 mm3. Jumlah sel darah putih pada berbagai jenis ternak yaitu pada domba sebesar 7-10 ribu mm3, kuda 8-11 ribu mm3, dan pada babi sebanyak 15-22 ribu mm3. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah sel darah putih adalah jenis kelamin, dimana pada pria jumlah sel darah merahnya lebih banyak dibanding dengan jumlah sel darah putih, meningkatnya jumlah sel darah putih umumnya merupakan pertanda adanya infeksi. Leukimia atau berkurangnya jumlah total sel darah putih dari jumlah yang normal umumnya lebih bersifat patologis. Jumlah sel darah putih dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, keadaan patologis atau kondisi kesehatan (Sonjaya, 2009).


Hitungan total sel darah putih, dibuat dengan cara yng sdama seperti sel darah merah. Akan tetapi karena sel drah putih jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan sel darah merah, darah tidak perlu diencerkan terlalu banyak, dan bujur sangkar perhitungannya dalam ribuan permilimeter kubik darah (Sonjaya, 2008).
Larutan yang digunakan dalam menghitung jumlah sel darah putih yaitu larutan turk. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2006), bahwa larutan turk adalah larutan pengencer yang berfungsi mengencerkan sel darah putih sehingga mempermudah dalam perhitungannya, dimana larutan turk ini terdiri dari glacial acetid acid 2 ml, gentian violet 1%, aquades 1 ml dan aquadestilata 100 ml.
Sel darah putih atau leukosit berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap infeksi atau serangan penyakit lainnya. Terdapat dua cara untuk menghitung leukosit dalam darah tepi. Yang pertama adalah cara manual dengan memakai pipet leukosit, kamar hitung dan mikroskop. Cara kedua adalah cara semi automatik dengan memakai alat elektronik. Cara kedua ini lebih unggul dari cara pertama karena tekniknya lebih mudah, waktu yang diperlukan lebih singkat dan kesalahannya lebih kecil yaitu ± 2%, sedang pada cara pertama kesalahannya sampai ± 10%. Keburukan cara kedua adalah harga alat mahal dan sulit untuk memperoleh reagen karena belum banyak laboratorium di Indonesia yang memakai alat ini. Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan lain-lain (Anonimc, 2009).
Sistem pertahanan tubuh dilakukan melalui sel darah putih (leukosit), leukosit mempertahankan tubuh terhadap invasi mikroorganisme dengan jalan merusak secara langsung mikroorganisme yang masuk dengan jalan fagositosis dan membentuk antibodi yang akan mersak mikroorganisme yang masuk. Leukosit merupakan unit yang mobil dari sistem pertahanan tubuh yang dibentuk disum-sum tulang (granulosit, monosit, dan sedikit limposit)dan sedikit pada jaringan limfoid (limposit dan sel plasma). Setelah pembentukannnya leukosit akan ditransport kebagian tubuh yang membutuhkannya (Siregar, 1995).


Jumlah leukosit meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih dari 11.000/µl. Bila jumlah leukosit lebih dari nilai rujukan, maka keadaan tersebut disebut leukositosis. Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukositosis yang fisiologik dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi, kejang, takhikardi paroksismal, partus dan haid. Leukositosis yang terjadi sebagai akibat peningkatan yang seimbang dari masing-masing jenis sel, disebut balanced leokocytosis. Keadaan ini jarang terjadi dan dapat dijumpai pada hemokonsentrasi. Yang lebih sering dijumpai adalah leukositosis yang disebabkan peningkatan dari salah satu jenis leukosit sehingga timbul istilah neutrophilic leukocytosis atau netrofilia, lymphocytic leukocytosis atau limfositosis, eosinofilia dan basofilia. Leukositosis yang patologik selalu diikuti oleh peningkatan absolut dari salah satu atau lebih jenis leukosit (Frandson, 1999).
Sel darah putih bentuknya tidak tetap. Sel darah putih dibuat di sumsum merah, kura dan kelenjar limpa. perbandingan sekitar 1 sel darah putih untuk setiap 660 sel darah merah. Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000--30.000/µl. Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000 --38.000 /µl. Jumlah leukosit turun secara bertahapdan pada umur 21 tahun jumlah leukositberkisar antara 4500-- 11.000/µl. Pada keadaan basal jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 -- 10.0004/µ1. Jumlah leukositmeningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetap ijarang lebih dari 11.000/µl (Anonim d , 2009).
Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000 - 30.000/µl. Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000 - 38.000 /µl. Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500 - 11.000/µl. Pada keadaan basal jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 - 10.0004/µ1 (Anonim c , 2009).
.


Sel darah putih terdiri dari 2 jenis yaitu leukosit granular (leucosit polymorphonuclear) dan leukosit agranular, Jumlahnya lebih sedikit, dengan perbandingan sekitar 1 sel darah putih untuk setiap 660 sel darah merah. Terdapat 5 jenis utama dari sel darah putih yang bekerja sama untuk membangun mekanisme utama tubuh dalam melawan infeksi, termasuk menghasilkan antibodi yaitu : (Anonim d , 2009)
 Neutrofil, juga disebut granulosit karena berisi enzim yang mengandung granul-granul, jumlahnya paling banyak. Neutrofil membantu melindungi tubuh melawan infeksi bakteri dan jamur dan mencerna benda asing sisa-sisa peradangan. Ada 2 jenis neutrofil, yaitu neutrofil berbentuk pita (imatur, belum matang) dan neutrofil bersegmen (matur, matang).
 Limfosit memiliki 2 jenis utama, yaitu limfosit T (memberikan perlindungan terhadap infeksi virus dan bisa menemukan dan merusak beberapa sel kanker) dan limfosit B.
 Monosit mencerna sel-sel yang mati atau yang rusak dan memberikan perlawanan imunologis terhadap berbagai organisme penyebab infeksi.
 Eosinofil membunuh parasit, merusak sel-sel kanker dan berperan dalam respon alergi.
 Basofil juga berperan dalam respon alergi.
Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total (sel/µl). Hitung jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit lebih banyak dari netrofil segmen, sedang pada orang dewasa kebalikannya. Hitung jenis leukosit juga bervariasi dari satu sediaan apus ke sediaan lain, dari satu lapangan ke lapangan lain. Kesalahan karena distribusi ini dapat mencapai 15%. Bila pada hitung jenis leukosit, didapatkan eritrosit berinti lebih dari 10 per 100 leukosit, maka jumlah leukosit/µl perlu dikoreksi (Watson, 2002).

E. Tekanan Darah
Tekanan darah adalah gaya yang diberikan darah pada dinding pembuluh darah. Tekanan ini bervariasi sesuai pembuluh darah terkait dan denyut jantung. Tekanan darah paling tinggi terdapat pada arteri-arteri besar yang meninggalkan jantung dan secara bertahap menurun ke arteriol. Akhirnya setelah mencapai kapiler, tekanan ini sedemikian renda sehingga tekanan darah ringan dari luar akan menutup pembuluh darah ini dan mendorong darah keluar. Hal ini dapat dibuktikan dengan memberi tekanan ringan pada kuku atau meletakkan sepotong gelas di atas kulit. Di dalam vena tekanan darah ini bahkan lebih rendah lagi sehingga akhirnya pada vena-vena besar yang mendekati jantung terdapat daya isap (suction), tekanan darah negatif (bukan positif), akibat gaya isap yang dihasilkan jantung ketika ruang-ruang didalamnya relaksasi (Watson, 2002).
Tekanan darah menunjukkan kepada tekanan yang dialami darah pada pembuluh darah ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya diukur seperti berikut yaitu 120/80 mmHg. Nomor atas (120) menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung dan disebut tekanan sestolr. Nomor bawah (80) menunjukkan tekanan pada saat jantung istirahat diantara pemompaan, dan disebut tekanan diastole. Saat jantung beristirahat adalah saat yang paling baik untuk mengukur tekanan darah yaitu saat istirahat dan dalam keadaan duduk atau berbaring. Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah dari orang dewasa. Tekanan darh juga dapat dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berada paling tinggi waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur di malam hari. Bila tekanan darah diketahui lebih tinggi dari pada biasanya secra berkelanjutan, orang itu dikatakan mengalami masalah darah tinggi (Anonime, 2009).
Presistole adalah waktu permulaan kontraksi atrium sampai ke permulaan kontraksi ventrikel. Diastole adalah periode dimana atrium atrium dan ventrikel berada dalam keadaan istirahat sedangkan sistole yaitu urutan awal kontraksi ventrikel. Selain itu juga dapat dikatakan, diastole merupakan keadaan dimana jantung berelaksasi atau istirahat. Pada waktu diastole, kelenturan dinding di bagian pertama arteri tersebut membantu mendorong ke arah bagian berikut dari arteri yang kemudian menjadi lebar. Pada waktu diastole tekanan menurun sampai mencapai titik terendah maka disebut diastole, sedangkan peristole merupakan waktu permulaan kontraksi atrium sampai ke permukaan kontraksi ventrikel (Frandson, 1999).
Tingkat rendahnya tekanan darah tergantung pada kondisi seseorang dan dipengaruhi pula oleh berbagai macam faktor yaitu faktor luar dan faktor dalam. Tekanan darah pada masing-masing pria dan wanita yaitu yang terendah 100/60 cenderung ke tekanan darah rendah dan yang tertinggi yaitu 140/90. Tingginya angka tekanan darah ini disebabkan karena faktor kelelahan. Adapun tekanan darah normal yaitu sebesar 120/80. Darah yang normal yaitu 120/80. Tekanan darah dapat turun dengan cepat bila terjadi pendarahan atau kehilangan darah. Kekurangan zat makanan juga menyebabkan tekanan darah rendah (Sonjaya, 2008).
Tekanan darah pada setiap individu berbeda-beda dan cenderung selalu berubah-ubah. Perbedaan tekanan darah tersebut disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kekuatan jantung memompa darah dan banyaknya darah dalam pembuluh darah. Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah yaitu jumlah darah dan aktivitas memompa jantung yaitu mendorong sepanjang pembuluh darah dan tekanan aliran darah dan selanjutnya dikatakan bahwa tekanan darah adalah gaya yang dilakukan oleh darah terhadap satuan luas dinding pembuluh darah. Tekanan darah normal pada pria yaitu 120/80 mmHg dan wanita 110/70 mmHg (Wulani, 1993).
Perbedaan tekanan darah yang diperoleh pada percobaan tekanan darah disebabkan karena perbedaan aktivitas pada saat pengukuran tekanan darah. Faktor-faktor yang empengaruhi tekanan darah yaitu (1) jumlah darah yang berada dalam peredaran darah, (2) aktivitas memompa jantung yaitu mendorong darah sepanjang pembuluh darah, (3) tekanan terhadap aliran darah (Anonime,2009).
Adapun cara pengukuran tekanan darah dapat diukur melalui alat spygnomanometer dan stetoskop. Pada manusia tekanan darah dapat ditentukan dengan menggunakan alat spygnomanometer. Hal ini dilakukan dengan cara mendengarkan arteri pada arah distal dari caff yang dikembangkan. Cara pengukuran tekana darah dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Cara pengukuran langsung dengan alat yang disebut spygnomanometer dan stetoskop yang dilakukan pada arteri brachialis si lekuk siku yang biasa diraba dengan jelas, bunyi jantung dapat diketahui dengan mendengarkan pukulan pada arteri brachialis dimana bunyi pertama sebagai tekanan antara sistole dan diastole disebut tekanan nadi. Sedangkan secara tidak langsung menggunakan usaha pengontrolan yaitu dilakukan oleh arteri yang paling kecil yaitu arteriol, dimana saat darah masuk ke dalam kapiler tekanan tersebut mendapat sistole dan diastole dari aliran darah yang dipercobakan (Watson, 2002).
Tekanan darah merujuk kepada tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri darah ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran. Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari Bila tekanan darah diketahui lebih tinggi dari biasanya secara berkelanjutan, orang itu dikatakan mengalami masalah darah tinggi. Penderita darah tinggi mesti sekurang-kurangnya mempunyai tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat (Anonime, 2009).

METODOLOGI PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat

Praktikum Darah III (Kadar Hemoglobin dan Nilai Hematokrit) dan Praktikum IV (Menghitung Sel Darah Merah dan Sel Darah Putih) dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 7 Maret 2009 pukul 14.00 WITA – selesai bertempat di Laboratorium Fisiologi Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Materi Praktikum
Alat yang digunakan pada Praktikum Darah III & IV adalah mikroskop, kertas saring, vaccinostyle, pipa kapiler berlapis antikoagulan, centrifuge, tabung Wintrobe, haemoglobinometer sahli, haemocytometer lengkap (terdiri dari 2 pipet, yaitu Sel Darah Merah dan Sel Darah Putih dan 1 buah kamar hitung),cover glass dan tissue.
Bahan yang digunakan pada Praktikum Darah III & IV ini adalah kapas, HCl 0,1 N, alkohol 70% , antikoagulan, aquades, sampel darah praktikan, larutan hayem, dan larutan turk.
Metode Praktikum

A. Menentukan Kadar Hemoglobin
1. Cara Sahli
Mengisi ke dalam tabung Sahli HCl 0,1 N sampai batas skala bawah (tanda 2 gms). Mengisap darah sebanyak 0.02 mm dari ujung jari dengan pipa haemometer sampai garis 20 cm, menyeka darah yang berceceran diujung pipet, mencatat waktunya, dan menyegerahkan meniup darah tadi masuk ke dalam tabung, hati-hati agar tak terjadi gelembung udara. Angkatlah pipet sedikit lalu isap asam HCl yang jernih 2-3 kali untuk membersihkan darah dalam pipet. Mengocok tabung haemometer dan biarkan selama 10 menit hingga terbentuk warna coklat. Memasukkan aquades setetes semi setetes sambil diaduk (titrasi) sampai warnanya sama dengan warna tabung kaca standar yang ada pada alat Haemometer. Membaca sampai dimana tinggi miniskus cairan pada
2. Kertas Skala Hb
Menusuk jari dengan vaccinostyle, kemudian darah yang keluar diserap dengan kertas skala, setelah itu menentukan kadar hemoglobin darah dengan menggunakan kertas standar nilai hemoglobin pada kertas skala.
B. Menentukan Kadar Nilai Hematokrit
Mempatkan ujung pipa kapiler pada tempat perlakuan (ujung jari) yang telah dilukai. Kemudian membiarkan darah masuk dengan sendirinya samapai ± 4/5 bagian dari panjang pipa. Menutup ujung pipa tadi dengan malam (wax), selanjutnya pusingkan dengan Mikro-centrifuge selama 3 menit. Membaca hasilnya dalam satuan % pada skala mikro-hematokrit.
C. Menghitung Sel Darah Putih
Darah dihisap samapi tanda 0,5 kemudian larutan turk dihisap sampai angka 11 dengan hati-hati. Prosedur selanjutnya pembuluh karet dilepaskan dari pipet, pipet dipegang dengan ibu jari dan telunjuk, kocok dengan hati-hati (membuat angka 8) selama 1-2 menit. Sebelum diteteskan ke dalam kamar hitung (counting chamber), lima tetes darah di dalam kapiler pipet harus dibuang. Membersihkan kamar hitung terlebih dahulu, memeriksa kaca penutup harus rapat di atas loji. Dengan kemiringan pipet 30o-35o, ujung pipet diletakkan di atas kamar hitung pada pinggir kaca penutup. Memebirakan kamar hitung terisi cairan perlahan-lahan dengan daya kapilerisasinya sendiri. Pekerjaan ini harus diulang lagi, bial mana kamar hitung tidak terisi seluruhnya, atau tidak terisi rata atau bial cairan melimpah masuk ke dalam saluran kaca penutup. Kelebihan cairan sedikit ditepi kaca penutup dapat dihapus dengan jari penutup dengan jari penutup tak tergeser, membiarkan kamar hitung itu selama 2-3 menit agar sel-sel darah mengendap dan tetap tempatnya. Memeriksa di bawah mikroskop dengan pembesaran besar. Memperhitungkan dilakukan di atas sel darah putih yang terdapat pada empat buah kotak yang berada "W". Sel darah putih yang terletak dan menyinggung garis batas sebelah kiri dan atas dihitung, sedangkan yang terletak dan menyinggung garis batas kanan dan bawah tidak dihitung. Jumlah sel darah merah yang diperoleh pada keempat kotak dikalikan dengan angka 50.
D. Menghitung Sel Darah Merah
Darah dihisap samapi angka 0,5 atau samapai angka 1,0 bila pasien sangat anemia, kemudian isaplah cairan Hayen sampai angka 101. Prosedur selanjutnya sama dengan perhitungan sel darah putih. Perhitungan dilakukan atas sel darah putih yang terdapat dalam empat kotak persegi bertanda "R". Setiap kotak R luasnya 1 mm persegi yang dibagi lagi dalam 16 kotak kecil.
E. Tekanan Darah
Memegang manset di lengan orang yang akan diukur tekanan darahnya dan
menetapkannya dan menetapkanya tekanan darah tiga kali beturut-turut dan mengambil rata-ratanya. Kemudian melakukannya berulang-ulang dengan perlakuan yang berbeda-beda seperti pada posisi terlentang, duduk, berdiri, berlari dan berfikir.
















Analisa Data
A. Perhitungan Kadar Hemoglobin
• X
• X
Keterangan :
X= Kertas Skala
B. Menghitung Sel Darah Merah


Keterangan:
N = Jumlah Sel Darah Merah dalam kamar hitung
R = Jumlah Sel Darah Merah dalam setiap kamar hitung.
SDM = Jumlah Sel Darah Merah
C. Menghitung Sel Darah Putih


Keterangan:
N = Jumlah Sel Darah Putih dalam kamar hitung
R = Jumlah Sel Darah Putih dalam setiap kamar hitung.
SDM = Jumlah Sel Darah Putih






HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan Praktikum Fisiologi Ternk Dasar yang telah dilakukan mengenai Kadar Hemoglobin, Nilai Hematokrit, Menghitung Jumlah Sel Darah Merah dan Menghitung Jumlah Sel Darah Putih, maka diperoleh hasil sebagai berikut :
A. Kadar Hemoglobin
Berdasarkan Praktikum Fisiologi Ternak Dasar yang telah dilakukan, maka hasil yang diperoleh sebagai berikut :
Tebel 8. Hasil Pengamatan Kadar Hemoglobin Pada Pria dan Wanita
Tabung Sahli (gr/100 ml) Skala Hb
Pria Wanita Pria Wanita
21 13 70 50
Sumber : Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak Dasar, 2009.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil dengan menggunakan cara sahli bahwa kadar hemogobin pada pria sebesar 21 gram/ml dan pada wanita sebesar 13 gram/ml. Sedangkan pada alat yang menggunakan kertas skala hemoglobin diperoleh kadar hemoglobin pada pria sebesar 70 gram/ml dan pada wanita 50 gram/ml. Dari pengamatan yang telah dilakukan kadar hemoglobin pada pria lebih besar dari kadar hemoglobin pada wanita, hal ini disebabkan karena perbedaan kadar hemoglobin ditentukan oleh jenis kelamin dan jumlah sel darah. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahardja (2002), yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin adalah jenis kelamin, jumlah sel darah, ketinggian tempat, dan tingkat kesehatan. Dari data di atas menunjukkan bahwa kadar hemoglobin pada pria dan wanita di atas normal. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Watson (2002), yang menyatakan bahwa kadar hemoglobin yang normal pada pria sebesar 14-18% dan pada wanita 12-15%.

Tidak normalnya kadar hemoglobin pada sampel darah tersebut disebabkan karena sampel darah tersebut berada pada kadar hemoglobin diatas normal. Hal ini disebabkan karena kondisi kesehatan individu yang tidak stabil pada saat pengambilan sampel darah, dimana aktivitas tubuh lebih benyak dari pada waktu istirahat serta kurangnya asupan nutrisi sehingga deferensiasi zat besi gizi menurun. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1999), yang menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin dalam darah ialah kondisi kesehatan individu dimana jumlah hemoglobin biasanya dibawah atau sekitar 5 gr/ml darah. Selain dipengaruhi oleh diferensiasi zat besi gizi, tekanan darah yang kurang baik, kekurangan vitamin dan hemolisa sel darah dapat menyebabkan anemia darah.
Dari Tabel 8, di atas menunjukkan bahwa dalam perhitungan kadar hemoglobin dengan menggunakan dengan menggunakan skala Hb ternyata lebih baik dibandingkan dengan menggunakan sahli, karena nilai pada skala Hb lebih mendekati nilai hemoglobin normal yatiu pada pria sebesar 14-18% dan pada wanita 12-15,6%.
Hemoglobin adalah gabungan antara hemo dan globin yang mempunyai berat molekul 65.000. Hemo mempunyai 4% dari berat hemoglobin yang memberikan derajat kemerahan eritrosit. Hemoglobin disebut juga sebagai pigmen respirasi karena mempunyai peranan dalam mengangkut gas yang terlibat dalam proses respirasi yaitu O2 dan CO2. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2008), bahwa hemoglobin adalah pigmen respirasi yang terdapat dalam eritrosit yang terdiri atas Hem dan Globin yang berperan dalam mengikat O2 untuk warna darah merah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar hemoglobin pada makhluk hidup adalah jenis kelamin dimana pria jumlah hemoglobinnya lebih besar daripada kadar hemoglobin pada wanita, spesies, jumlah sel darah merah, ketinggian tempat, dan kondisi kesehatan individu. Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (2002), bahwa yang mempengaruhi jumlah hemoglobin adalah jenis kelamin, dimana jumlah sel darah pria lebih banyak sekitar 5.440.000/mm3 dibandingkan pada wanita yaitu sekitar 4.800.000/mm3, faktor kedua yaitu spesie, jumlah sel darah merah, ketinggian tempat dimana seseorang yang berada pada tempat yang tinggi misalnya daerah pegunungan, jumlah kadar hemoglobinnya cenderung lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berada di daerah yang tempatnya lebih rendah atau datar hal tersebut disebabkan karena untuk menjaga keseimbangan tubuh dan kadar Hb stabil, maka sumsum memproduksi sel darah merah memproduksi lebih banyak, dan kondisi kesehatan individu dimana jumlah hemoglobin biasanya dibawah atau sekitar 5 gr/ml darah. Selain dipengaruhi oleh diferensiasi zat besi gizi, tekanan darah yang kurang baik, kekurangan vitamin dan hemolisa sel darah dapat menyebabkan anemia darah.
Terdapat beberapa cara bagi mengukur kandungan hemoglobin dalam darah, kebanyakannya dilakukan secara automatik oleh mesin yang direka khusus untuk membuat beberapa ujian terhadap darah. Di dalam mesin ini, sel darah merah diceraikan untuk mengasingkan hemoglobin dalam bentuk larutan. Hal ini sesuai dengan pendapat Siregar (1995), yang menyatakan bahwa hemoglobin yang terbebas ini dicampur dengan bahan kimia yang mengandungi cyanide yang mengikat kuat dengan molekul hemoglobin untuk membentuk cyanmethemoglobin. Dengan menyinarkan cahaya melalui larutan cyanmethemoglobin dan mengukur jumlah cahaya yang diserap (khususnya bagi gelombang antara 540 nanometer), jumlah hemoglobin dapat ditentukan.
Bila pembentukan hemoglobin dalam sumsum tulang berkurang, maka persentase hemoglobin dalam darah merah juga menurun karena hemoglobin untuk mengisi sel kurang bila hematokrit (persentase sel dalam darah normalnya 40 sampai 45 persen). Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (2002) yang menyatakan bahwa jumlah hemoglobin dalam masing-masing sel nilainya normal, maka seluruh darah seorang pria rata-rata mengandung 16 gram/dl hemoglobin, dan pada wanita rata-rata 14 gram.




B. Nilai Hematokrit
Berdarkan Praktikum Fisiologi Ternak Dasar yang telah dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 9. Hasil Pengamatan Nilai Hematokrit pada Pria dan Wanita
Kelompok Makrokapilari (%) Mikro-Hematokrit (%)
Putra Putri Putra Putri
I 48 22 48 23
II, IV 46 21 30 22
III 45 23 35 20
V 48 22 48 23
Jumlah 187 145 161 88
Rata-rata 46.7 36,2 40.2 22
Sumber : Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak Dasar, 2007

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh rata-rata nilai hematokrit pada mikrokapileri pada pria yaitu 46,7% dan pada wanita 36,2%. Sedangkan dengan cara mikrohematokrit diperoleh hasil pada pria 40,2% dan wanita 22%. Nilai hematokrit pada pria di atas nilai hematokrit normal sedangkan pada wanita di bawah nilai hematokrit normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1999) yang menyatakan bahwa nilai hematokrit normal pada laki-laki adalah 42% dan pada wanita 38%.
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai hematokrit adalah jenis kelamin, spesies, jumlah sel drah merah dimana jumlah sel darah merah pada pria lebih banyak jika dibandingkan dengan wanita, apabila jumlah sel darah merah meningkat atau banyak maka jumlah nilai hematokrit juga akan mengalami peningkatan, aktivitas dan keadaan pagositosia. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992), bahwa ketinggian tempat juga mempengaruhi nilai hematokrit, karena pada tempat yang tinggi seperti pegunungan kadar oksigen dalam udara berkurang sehingga oksigen yang masuk ke dalam paru-paru berkurang, oleh karena itu supaya terjadi keseimbangan maka sumsum tulang belakang memproduksi sel-sel darah merah dalam jumlah yang banyak.
Nilai hematokrit adalah persentase volume endapan eritrosit setelah sampel darah dipisahkan dalam waktu dan kecepatan tertentu. Hal ini sesuasi dengan pendapat Rahardja (2002), bahwa nilai hematokrit adalah panjangnya endapan sel darah merah yang dinyatakan dalam persentase volume darah di dalam tabung hematokrit, nilai ini berbanding lurus dengan jumlah sel darah, maka semakin tinggi nilai hematokrit semakin tinggi pula perbandingan komponen-komponen dan plasma.
Hematokrit darah adalah persentase darah yang berupa sel, jadi bila orang mengatakan bahwa seseorang mempunyai hematokrit 40, ini berarti bahwa hematokritnya 40% dari suatu volume darah. Volume darah pada pria normal rata-rata 42 sedangkan pada wanita normal adalah 38. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1999), bahwa nilai hematokrit normal pada laki-laki adalah 40-50%, sedangkan pada wanita adalah 35-45%.
Dalam menghitung bilai hematokrit terdapat dua cara yaitu dengan cara wintrobe dan cara mikrohematokrit. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaifuddin (2002), yang menyatakan bahwa metode untuk mengukur nilai hematokrit terdiri dari dua cara yaitu dengan cara wintrobe dan mikrohematokrit. Cara wintrobe menggunakan zat antikoagulan tabung wintrobe dan centrifunge khusus dengan kecepatan putaran lebih dari 10.000 rpm, dan pembacaan nilai hematokrit digunakan pula alat yang khusus.
Protein plasma terdiri dari dua jenis protein utama yaitu albumin dan globulin, fraksi globulin dapat dibagi menjadi alfa, beta, dan gamma globulin. Alfa dan beta globulin disintesis dalam hati, gamma globulin disintesis oleh sel plasma dan limposit pada saat sel-sel ini dirangsang oleh antigen. Umumnya antibodi yang telah diketahui termasuk dalam fraksi gamma globulin. Albumin adalah protein yang paling melimpah di dalam plasma yang merupakan protein utama yang dihasilkan oleh hati. Albumin berperan penting dalam peningkatan dan transfor berbagai zat di dalam darah dan bertanggung jawab pada sekitar 80% tekanan osmotik potensial dari plasma. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2006), bahwa plasma darah merupakan cairan ekstraseluler dalam darah yang melarutkan protein, jaringan limfositk, albumin, globulin, fibrinogen, transferin, dan immunoglobin.

























C. Menghitung Jumlah Sel Darah Merah
Berdasarkan hasil praktikum tentang Menghitung Sel Darah Merah, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Gambar 8. Hasil Praktikum Menghitung Jumlah Sel Darah Merah
LABORATORIUM FISIOLOGI TERNAK DASAR
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2009










Preparat = Darah Manusia
Perbesaran = 40 x
R1 = 217
R2 = 175
R3 = 191
R4 = 180

N = R1 + R2 + R3 + R4
N = 217 + 175 + 191 + 180
N = 763
SDM = N x 10.000
SDM = 763 x 10.000
SDM = 7.630.000/mm3
Sumber: Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak Dasar, 2009






Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh, maka hasil jumlah sel darah merah pada putra sebesar 7.630.000/mm3. Dari data di atas diketahui bahwa jumlah sel darah merah pada pria di tidak normal, dimana jumlah sel darah merah yang normal pada pria adalah 5.200.000 mm3. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1999), yang menyatakan bahwa jumlah sel darah merah merupakan bagian utama dari komponen darah, dimana setiap milimeter kubik pada darah pria dewasa mengandung 5.200.000 mm3 sel darah merah, sedangkan pada wanita yaitu 4.700.000 mm3 dimana jumlah sel darah merah ini berfungsi sebagai pengangkut oksigen dan juga mempertahankan suhu tubuh.
Jumlah sel darah merah dipengaruhi oleh jenis spesies, oleh karena itu jumlah sel darah merah pada setiap individu termasuk ternak berbeda pula. Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (2002), yang menyatakan bahwa pada beberapa jenis ternak yaitu pada domba memiliki sel darah merah sebesar 11.000/mm3 sedangkan pada sapi, kuda, dan babi sebesar 7.000.000/mm3.
Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penurunan jumlah sel darah merah pad seseorang dapat terjadi karena orang tersebut menderita anemia dan hemokonsentrasi disebabkan karena penurunan jumlah air yang diminum atau banyaknya jumlah air yang diminum, sedangkan anemia disebabkan di bawah normal. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1992), yang menyatakan bahwa hemokonsentrasi disebakan oleh penurunan jumlah air atau peningkatan jumlah air di dalam tubuh, sedangkan anemia disebabkan karena berkurangnya sel darah merah di dalam tubuh.
Dalam proses perhitunganjumlha sel darah merah dapat dilakukan di bawah miskroskop dengan cara pengenceran dan dalam kamar hitung. Hal ini sesuai dengan pendapat Mikrajuddin (2004) yang menyatakan bahwa untuk dapat menghitung jumlah sel darah merah dapat dilakukan dengan metode kamar hitung dan diamati dibawah miskroskop. Darah terlebih dahulu diencerkan di dalam tabung reaksi kemudian dimasukkan dalam kamar hitung, jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu. Untuk mengencerkan sel darah merah digunakan larutan hayem, larutan ini berfungsi untuk mengencerkan sel darah merah. Larutan hayem terbuat dari komposisi mercury chloride 0,5 gr, Natrium sulfat 5 gr, natrium chloride 1 gr dan aquades sebanyak 100ml.
Terkadang peredaran sel darah merah terganggu, dan disebabkan karena factor lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (2002), yang menyatakan bahwa sistem peredaran darah manusia dan sel darah merah sering mengalami gannguan. Gangguan sistem peredaran darah dapat terjadi karena adanya faktor lingkungan yang tidak stabil.





















D. Menghitung Sel Darah Putih
Berdasarkan hasil praktikum tentang Menghitung Sel Darah Merah maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Gambar 7. Hasil Praktikum Menghitung Jumlah Sel Darah Putih
LABORATORIUM FISIOLOGI TERNAK DASAR
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2009









Preparat = Darah Manusia
Perbesaran = 40 X
W1 = 25
W2 = 40
W3 = 75
W4 = 40

N = W1 + W2 + W3 + W4
N = 25 + 40 + 75 + 40
N = 180
SDP = N x 5000
SDP = 750 x 5000
SDP = 900.000
Sumber: Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak, 2009

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa jumlah sel darah putih yaitu 900.000 mm3. Hasil menunjukkan bahwa jumlah sel darah tersebut tidak normal, dimana jumlah sel darah putih normal pada mausia yaitu berkisar 5-10.000/µL. Hal ini sesuai dengan pendapata Sonjaya (2008), yang menyatakan bahwa Jumlah leukosit lebih besar daripada jumlah eritrosit tetapi jumlahnya di dalam tubuh jauh lebih sedikit, yaitu berkisar 5-10.000/µL. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah sel darah putih adalah jenis kelamin, dimana pria mempunyai jumlah sel darah merah lebih banyak dibandingkan dengan jumlah sel darah putih, aktivitas juga mempengaruhi jumlah sel darah putih, meningkatnya jumlah sel darah putih umunmya merupakan pertanda adanya infeksi, feukofenia atau berkurangnya jumlah total sel darah putih dari yang normal biasanya lebih cenderung bersifat patologis.
Jumlah sel darah putih, juga dipengaruhi oleh jenis spesies, oleh karena itu jumlah sel darah putih pada setiap individu termasuk ternak berbeda pula. Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (2002), yang menyatakan bahwa pada beberapa jenis ternak yaitu pada domba memiliki sel darah putih sebesar -10 ribu mm3, kuda 8-11 ribu mm3, dan pada babi sebanyak 15-22 ribu mm3.
Darah pada manusi memiliki lima jenis leukosit, tetapi berdasarkan ada tidaknya glanular pada selnya kelima macam leukosit itu dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu leukosit berglanular dan leuosit tidak glanular. Granulosit terdiri atas netrofil, basofil dan eosinofil, sedangkan agranulosit terbagi atas limfosit dan monosit. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2008) yang menyatakan bahwa leukosit diklasifikasikan berdasarkan ada tidaknya granula dalam protein plasma yang dibagi menjadi granulosit dan agranulosit. Agranulosit terdiri dari limfosit dan monosit sedangkan granulosit terdiri dari netrofil, basofil dan eosinofil. Netrofil merupakan garis pertahanan tubuh untuk melawan infeksi dengan beragmigrasi ke daerah yang dikuasai bakteri untuk memusnakannya. Eosinofil merupakan leokosit yang mengandung granular berwarna biru.
Larutan Turk adalah larutan pengencer yang berfungsi mengencerkan sel darah putih, sehingga mempermudah dalam perhitungan sel darah putih. Larutan Turk ini terdiri dari glacial acetid acid sebanyak 2 ml, gential violet 1% aquadest 1 ml, dan aquadestilata 100 ml (Sonjaya, 2008).





E. Tekanan Darah
Berdasarkan hasil praktikum tentang tekanan darah, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 10. Hasil Pengukuran Tekanan Darah pada Manusia
Perlakuan Tekanan Darah Jumlah Rata-rata
Kelompok I Kelompok II&IV Kelompok III Kelompok V
Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita
Berdiri 120/80 120/80 120/80 90/70 110/80 100/70 120/80 110/70 888/80 111/80
Duduk 100/80 110/80 120/80 90/70 100/90 100/60 100/80 110/90 800/80 100/80
Berlari 110/90 110/90 140/80 90/70 120/70 110/80 110/90 120/70 910/80 113/80
Berfikir 110/80 110/90 120/60 90/60 100/90 100/90 110/80 110/60 850/70 106/70
Berbaring 110/80 110/90 120/80 90/60 120/80 90/70 110/80 100/80 850/80 106/80

Sumber: Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak, 2009

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa rata-rata hasil tekanan darah pada perlakuan berdiri sebesar 111/80. Pada perlakuan duduk rata-ratanya sebesar 100/80. Pada perlakuan berlari rata-rata sebesar 113/80 dan sedangkan pada perlakuan berbaring rata-rata 106/80. Dari keempat perlakuan tersebut diatas ternyata pada saat berlari tekanan darah lebih tinggi dibandingkan dengan pada saat berdiri, duduk dan berfikir. Hal tersebut disebabkan karena tekanan yang dialami darah pada pembuluh darah ketika darah dipompa oleh jantung dan denyut jantung meningkat seketika, maka tekanan darah pada manusia akan meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (2002) yang menyatakan bahwa tekanan darah adalah gaya yang diberikan darah pada dinding pembuluh darah. Tekanan ini bervariasi sesuai pembuluh darah terkait dan denyut jantung. Tekanan darah paling tinggi terdapat pada arteri-arteri besar yang meninggalkan jantung dan secara bertahap menurun ke arteriol. Akhirnya setelah mencapai kapiler, tekanan ini sedemikian renda sehingga tekanan darah ringan dari luar akan menutup pembuluh darah ini dan mendorong darah keluar. Hal ini dapat dibuktikan dengan memberi tekanan ringan pada kuku atau meletakkan sepotong gelas di atas kulit. Di dalam vena tekanan darah ini bahkan lebih rendah lagi sehingga akhirnya pada vena-vena besar yang mendekati jantung terdapat daya isap (suction), tekanan darah negatif (bukan positif), akibat gaya isap yang dihasilkan jantung ketika ruang-ruang didalamnya relaksasi.
. Berdasarkan tabel 10. tekanan darah dapat dilihat dari kelima kelompok di atas ternyata tekanan darah putra lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan darah putri ini bisa disebabkan karena perbedaan aktifitas pada putra lebih besar daripada aktivitas putri. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993), yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah adalah kekuatan jantung memompa darah dan banyaknya darah dalam pembulu darah dan tekanan darah terhadap aliran darah. Tekanan darah normal pada pria dan wanita secara teori yaitu 96 mmHg. Tekanan darah pada kelima kelompok di atas baik pria maupun wanita agak normal, karena tekanan darah yang normal pada pria yaitu 120/80 mmHg sedangkan pada wanita 110/80 mmHg.
Tekanan darah menunjukkan kepada tekanan yang dialami darah pada pembuluh darah ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (2002) yang menyatakan bahwa tekanan darah adalah gaya yang diberikan darah pada dinding pembuluh darah. Tekanan ini bervariasi sesuai pembuluh darah terkait dan denyut jantung. Tekanan darah paling tinggi terdapat pada arteri-arteri besar yang meninggalkan jantung dan secara bertahap menurun ke arteriol. Akhirnya setelah mencapai kapiler, tekanan ini sedemikian renda sehingga tekanan darah ringan dari luar akan menutup pembuluh darah ini dan mendorong darah keluar. Hal ini dapat dibuktikan dengan memberi tekanan ringan pada kuku atau meletakkan sepotong gelas di atas kulit. Di dalam vena tekanan darah ini bahkan lebih rendah lagi sehingga akhirnya pada vena-vena besar yang mendekati jantung terdapat daya isap (suction), tekanan darah negatif (bukan positif), akibat gaya isap yang dihasilkan jantung ketika ruang-ruang didalamnya relaksasi.
Tekanan darah berbeda-beda pada setiap individu disebabkan karena perbedaan atau banyaknya aktivitas. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2006), yang menyatakan bahwa tekanan darah adalah adanya tekanan dari pembuluh darah. Hal ini juga didukung dengan pendapat Guyton (1997), yang menyatakan bahwa tekanan darah yang normal pada manusia kira-kira 96 mmHg yang sedikit kurang dari rata-rata tekanan sistole dan diastole.
Nilai 124, 120 dan 110 merupakan nilai sistole. Nilai 70 dan 80 merupakan nilai diastole. Nilai sistole diambil dari mulai terdengar detak jantung yang pertama, sedangkan nilai diastole diambil atau mulai dihitung setelah detak jantung mulai menghilang. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2006), yang menyatakan bahwa siklus kontraksi jantung terbagi atas tiga yaitu persistole, sistole, dan diastole. Persistole merupakan waktu permulaan kontraksi ventrikel. sistole merupakan permulaan kerja sampai akhir kontraksi ventrikel, sedangkan diastole adalah periode dimana atrium dan ventrikel dalam keadaan istirahat.
Cara pengukuran tekanan darah dapat dilakukan dengan menghitung denyut nadi setelah melakukan aktivitas sampai kecapatan denyut nadi itu hilang. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan menggunakan alat tensi seperti spygomanometer dan stetoskop untuk tekanan darah.












PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
- Kadar hemoglobin rata-rata pada pria dan wanita dengan cara sahli yaitu 21 gr/100ml dan 13 gr/100ml. Sedangkan kadar hemoglobin pada pria dan wanita dengan cara hemoglobin yaitu 70 gr/100ml dan 50 gr/100ml.
- Nilai hematokrit rata-rata pada pria dan wanita yaitu 46,7% dan 36,2% untuk cara makrokapileri. Sedangkan untuk mikrohematokrit pria dan wanita yatu 40,2% dan 22%.
- Jumlah sel darah merah pada pria yaitu 7.630.000/mm3, berarti jumlah sel darah merahnya normal.
- Jumlah sel darah putih pada wanita yaitu berkisar 900.000/µL, berarti jumlah sel darah putih tersebut tidak normal dimana jumlah sel darah putih yang normal pada wanita adalah berkisar 5000-10.000/µL.
Saran
Saran untuk laboratorium adalah mengenai alat-alat yang sudah tidak layak pakai atau sudah rusak sebaiknya diganti dengan yang baru.
Saran untuk asisten agar pada saat respon interval waktunya jangan terlalu cepat agar praktikum lebih mengerti dan tidak tergesa-gesa dalam menjawab soal respon.





DAFTAR PUSTAKA
Anonima, 2009. Hemoglobin dalam Darah. Http;//wikipedia.org/wiki/item hemolobin dalam darah/09-03-2009/html

_______b, 2009. Nilai Hematokrit. Http;//tedbio.Multiply.com/journal/item/Nilai hematokrit/09-03-2009/html

_______c, 2009, Bahan Ajar Fisiologi Keperawatan,. Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, Makassar

_______d, 2009. Sel Darah Merah. Http;//www.geocityes.com/mitra_sejati.html

_______e, 2009. Tekanan Darah Manusia . Http;//tedbio. Multiply. Com /journal/ item /Tekanan Darah/09-02-2009/html.

Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi keperawatan_edisi kedua. Gadjah Mada. University Press. Yogyakarta.

________. 1999. Anatomi dan Fisiologi Keperawatan_edisi ketiga. Gadjah Mada. University Press. Yogyakarta.

Gibson. 2003. Neuro Fisiologi_edisi ketiga. Bagian ilmu faal. Fakultas Kedokteran. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Kamalia. 2002. Biologi. Erlangga. Jakarta.

Mikrajuddin. 2004. Biologi 3SMU. Cempaka Mas. Yogyakarta.

Raharja. 2002. Obat-Obat Penting. Clinical Pathology Department Medical Faculty-Universitas Hasanuddin:Makassar

Siregar. 1995. Neuro Fisiologi_edisi kelima. Bagian ilmu faal. Fakultas Kedokteran. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Sonjaya, Herry. 2005. Bahan Ajar Fisiologi Ternak Dasar. Fakuiltas Peternakan-Universitas Hasanuddin:Makassar

_______. 2006. Bahan Ajar Fisiologi Ternak Dasar. Fakuiltas Peternakan-Universitas Hasanuddin:Makassar

_______. 2008. Bahan Ajar Fisiologi Ternak Dasar. Fakuiltas Peternakan-Universitas Hasanuddin:Makassar

Syaifuddin. 2002. Fungsi Sistem Tubuh Manusia. Widya Medika. Jakarta.

Watson, R. 1997. Anatomi dan fisiologi untuk perawa. ECG. Jakarta.

_______. 2002. Anatomi dan fisiologi untuk perawat_edisi ke dua. ECG. Jakarta.

Wulani. 1995. Fisiologi Sel Dan Cairan Tubuh. Bagian Ilmu Faal. Fakultas Kedokteran. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Jumat, 15 Mei 2009

Laporan fister (dara II & IV)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Darah merupakan suatu jaringan berbentuk cair yang beredar melalui jantung, arteri, dan vena yang berfungsi untuk memasukkan oksigen dan bahan makanan keseluruhan tubuh serta mengambil karbondioksida dan metabolik dari jaringan. Dalam tubuh yang sehat, 60% dari berat badan manusia adalah air.

Cairan tubuh merupakan faktor penting dalam berbagai proses fisiologis didalam tubuh. Untuk menjaga agar cairan tubuh relative konstan dan komposisinya stabil merupakan hal penting. Dalam system pengaturan yang mempertahankan kekonstanan cairan tubuh diperlukan adanya pengaturan volume cairan tubuh, cairan ekstraseluler, pengaturan keseimbangan sam basa dan control pertukaran antara kompartemen cairan ekstraseluler dan intraseluler. Di dalam darah biasa terjadi hemolisa dan krenasi yang mana hemolisa terjadi disebabkan karena cairan yang bersifat hipotonik sedangkan krenasi terjadi karena cairan yang bersifat hipertonik.

Darah merupakan cairan ekstrasel yang mensuplay sel-sel dengan nutrisi dan zat-zat lain yang diperlukan untuk fungsi selular, tetapi sebelum digunakan zat-zat ini harus ditransfort melalui membran sel dengan dua proses utama yaitu difusi dan osmosis serta transfort aktif. Dinding sel eritrosit sangat permeabel terhadap sifat apapun Oleh karena itu untuk dapat mengetahui lebih lanjut mengenai darah dan cairan yang kompartemen dalam darah. Hal inilah yang melatarbelakangi praktikum mengenai Darah II dan Darah V ini dilakukan.

Tujuan dan Kegunaan

A. Hemolisa dan Krenasi

Tujuan dari praktikum Hemolisa dan Krenasi adalah untuk melihat pengaruh larutan hipotonis, hipertonis, dan isotonis terhadap terjadinya hemolisa dan krenasi.

Kegunaan dari praktikum Hemolisa dan Krenasi adalah agar kita dapat mengetahui larutan hipotonis, hipertonis, dan isotonis terhadap terjadinya hemolisa dan krenasi

B. Tekanan Osmotik Eritrosit

Tujuan dari praktikum Tekanan Osmotik Eritrosit adalah untuk melihat dan mengamati pengaruh kadar NaCl terhadap tekanan osmotik sel darah dan perubahan yang terjadi.

Kegunaan dari praktikum Tekanan Osmotik Eritrosit adalah agar kita dapat mengetahui perubahan yang terjadi dalam sel darah dengan pemberian kadar NaCl yang berbeda.

C. Berat Jenis Darah

Tujuan dari praktikum Berat Jenis Darah adalah untuk mengetahui cara menentukan berat jenis darah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Kegunaan dari praktikum Berat Jenis Darah adalah agar kita dapat mengetahui perubahan yang terjadi dalam sel darah dengan pemberian kadar NaCl yang berbeda.

D. Golongan Darah

Tujuan dari praktikum Golongan Darah adalah untuk mengetahui jenis golongan darah seseorang berdasarkan ada tidaknya aglutinasi.

Kegunaan dari praktikum Golongan Darah adalah agar mengetahui proses penentuan golongan darah pada manusia berdasarkan sisten ABO.

E. Tekanan Darah

Tujuan dari praktikum Tekanan Darah adalah untuk mengetahui tekanan dari darah tehadap dinding pembuluh darah.

Kegunaan dari praktikum Tekanan Darah adalah agar mengetahui tekanan darah tehadap dinding pembuluh darah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hemolisa Darah dan Krenasi

Hemolisa adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin besar di dalam medium dapat bebas dan berada di sekelilingnya. Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh penambahan larutan hipotonis, hipertonis ke dalam aliran darah. Penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan akan menyebabkan rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dan lain-lain. Apabila medium disekitar wajah atau permukaan eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl), maka medium tersebut akan masuk kedalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermeabel dan dapat berakibat sel eritrosit mengembang. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel itu akan pecah dan akibatnya hemoglobin akan bebas melalui sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosit akan menuju keluar eritrosit, akibatnya eritrosit akan keriput atau krenasi. Keriput ini dapat dikembalikkan dengan cara menambahkan cairan isotonis (Anonima, 2009).

Bila sel dimasukkan kedalam suatu larutan tanpa menyebabkan sel membengkak atau mengkerut disebut larutan isotonis, oleh karena tidak terjadi perubahan osmosis, yang terjadi hanyalah meningkatnya volume cairan ekstrasel. Larutan NaCl 0,9% atau dextrose 5% merupakan contoh larutan isotonis. Larutan isotonis mempunyai arti klinik yang penting karena dapat diinfuskan kedalam darah tanpa menimbulkan gangguan keseimbangan osmosis antara cairan ekstrasel dan intrasel ( Siregar, 1995).

Larutan yang bila sel dimasukkan kedalamnya akan menyebabkan sel menjadi bengkak disebut larutan hipotonis, oleh karena osmolaritas cairan ekstrasel akan berkurang, dan cairan ekstrasel akan masuk kedalam sel. Larutan NaCl yang konsentrasinya kurang dari 0,9% disebut larutan hipotonis (Yusuf, 1995).

Larutan hipertonis merupakan larutan yang bila sel dimasukkan kedalamnya akan menyebabkan sel menjadi mengkerut oleh karena osmolalitas cairan ekstrasel akan meningkat dan menyebabkan osmosis air keluar dari sel menuju ke cairan ekstrasel. Larutan NaCl yang konsentrasinya lebih dari 0,9% merupakan larutan hipertonis (Gani, 1995).

Berbagai jenis cairan didalam klinik sering diberikan secara intravena untuk memenuhi kebutuhan nutrisi penderita yang tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi penderita yang tidak dapat memenuhi kebutuhannya secara oral. Yang sering digunakan dalah larutan glukose dan asam amino. Bila larutan ini diberikan, konsentrasi dari bahan-bahan yang aktif secara osmotic akan diusahakan untuk mendekati isotonis, tau diberikan secara perlahan-lahan sehingga tidak terganggu keseimbangan osmotic cairan tubuh. Namun, setelah glukose atau asam amino dimetabolisme akan terjadi kelebihan air. Dalam hal ini, ginjal akan mengekskresi kelebihan air tersebut dalam bentuk urine yang encer (Anonima, 2009).

Krenasi adalah kontraksi atau pembentukan nokta tidak normal di sekitar pinggir sel setelah dimasukkan ke dalam larutan hipertonik karena kehilangan air melalui osmosis. Secara etimologi krenasi berasal dari bahasa yunani yakni “Crenatus”. Krenasi terjadi karena lingkungan hipertonik (sel memiliki larutan dengan konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan larutan disekitar luar sel. Osmosis menyebabkan pergerakan air keluar dari sel yang dapat menyebabkan sitoplasma berkurang volumenya, sebagai akibat sel mengecil atau mengkerut (Anonima, 2009).

Pada manusia yang sehat derajat hemolisa darahnya dapat disebabkan oleh kinain pada konsentrasi 10-9m dengan level darah 5 x 10-5. Hal ini mungkin juga berlaku bagi darah penderita malaria. Pada konsentrasi 10-6 metabolik kinin menimbulkan derajat hemolisis yang lebih tinggi daripada kinin dengan konsentrasi 10-2 (Anonima, 2009).

Krenasi adalah proses pengkerutan sel darah akibat adanya larutan hipotonis dan hipertonis. Faktor penyebab krenasi yaitu adanya peristiwa osmosis yang menyebabkan adanya pergerakan air dalam sel sehingga ukuran sel menjadi berkurang atau mengecil. Proses yang sama juga terjadi pada tumbuhan yaitu plasmolisis dimana sel tumbuhan juga mengecil karena dimasukkan dalam larutan hipertonik. Krenasi ini dapat dikembalikkan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (Watson, 2002).

Hemolisis adalah pemecahan sel-sel darah sedemikian rupa sehingga terlepas dalam plasma. Hal ini disebabkan oleh toksis bakteri, bias ular, dan parasit darah serta zat-zat lainnya. Hemoglobin yang berada didalam plasma memberikan warna merah dan keadaan tersebut dinamakan hemoglobinemia. Apabila hemoglobin dieksresikan di dalam urine, keadaan ini disebut hemoglobinuria (Frandson, 1999).

Penghancuran sel-sel darah merah terjadi setelah mengalami tiga sampai empat bulan. Sel-sel darah merah mengalami disintegrasi, melepaskan Hb ke dalam darah dan debris sel yang rusak itu disisihkan dari sirkulasi oleh system makrofag yang terdiri dari sel-sel khusus di dalam hati, limpa, sum-sum tulang dan nod limfa. Sel-sel makrofag ini melakukan fagositosis debris. Fragmennya dicerna dan dilepaskan ke dalam darah. Unsur protein globin dari hemoglobin mengalami degradasi menjadi asam amino (Watson, 2002).

B. Pengertian Osmosis, Difusi dan Transpor Aktif

Osmosis terjadi bila pada suatu substansi dengan molekul-molekul besar seperti gula dibuat menjadi suatu larutan dan dipisahkan dari suatu larutan gula yang lebih lemah oleh membrane semipermeabel, hanya air yang akan bias melalui membran, dari larutan lemah ke larutan kuat, sebab melokul-molekul itu terlalu besar untuk melaluinya, maka pergerakan tersebut dinamakan dengan osmosis (Watson, 2002).

Osmosis adalah perpindahan air melalui membrane permeabel selektif dari bagian yang lebih encer ke bagian yang lebih pekat. Membran semipermeabel harus dapat ditembus oleh pelarut, tetapi tidak untuk zat terlarut, yang sering mengakibatkan gradien tekanan sepanjang membrane. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tetapi dapat dihambat secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat menjadi melebihi bagian dari konsentrasi yang lebih encer. Gaya per unit luas yang dibutuhkan untuk mencegah mengalirnya pelarut melalui membrane permeabel selektif dan masuk ke larutan yang dengan konsentrasi yang lebih pekat dibandingkan dengan tekanan turgor (Anonimf, 2008).

Bila suatu membran yang terletak diantara dua ruangan yang berisi cairan bersifat permeabel terhadap air tetapi tidak terhadap bahan-bahan tertentu, maka membrane itu disebut bersifat semipermeabel atau selectively permeable. Bila koansentasi bahan tersebut lebih besar pada salah satu sisi membran dibandingkan sisi lainnya, maka air akan melewati membran menuju ke sisi yang mempunyai knsentrasi yang lebih besar. Keadaan ini disebut osmosis. Unit yang paling sering dipakai untuk menilai aktifinitas osmotic adalah mOsm/L yang mengukur konsentrasi partikel yang dihasilkan oleh disosiasi 1 mmol substansi, misalnya, NaCl berdisosiasi menjadi Na+ dan Cl- ; jadi 1 mmol NaCl akan menimbulkan tekanan osmotik 2 mOsm/L (Yususf, 1995).

Osmosis terjadi oleh karena pergerakan kinetic dari tiap partikel dari Ion atau molekul pada larutan pada kedua sisi dari membrane. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Bila suhu pada kedua sisi dari membran adalah sama, partikel pada kedua sisi membran akan mempunyai energi untuk pergerakan kinetik yang sama. Namun, oleh karena partikel bahan-bahan yang tidak permeabel pada kedua larutan menggantikan molekul air. akibatnya, potensi kimia air akan berkurang sesuai dengan konsentrasi bahan-bahan yang tidak permeabel tersebut (Siregar, 1995).

Pada daerah dimana konsentrasi bahan-bahan yang tidak larut itu rendah, maka potensi kimia air akan lebih besar dibandingkan pada daerah dimana konsentrasi bahan-bahan yang tidak permeabel lebih tinggi. Akibatnya air akan berdifusi dari tempat dimana konsentrasi bahan-bahan yang tidak permeabel lebih rendah ke sisi dimana konsentrasi bahan-bahan yang tidak permeabelnya lebih tinggi. Na+ merupakan ion utama yang mempengaruhi osmolaritas cairan ekstrasel dan berfungsi mengikat air agar tetap berada diluar sel. Sebaliknya, K+ merupakan ion utama yang mempengaruhi osmolalitas dan berfungsi menahan air agar tetap didalam sel (Anonimc, 2009).

Osmosis adalah gerakan molekul pelarut (air) melalui membran (yang hanya permeabel untuk air, tatapi tidak untuk zat terlarut) kearah daerah yang mengandung kadar zat terlarut yang lebih pekat. Molekul-molekul pelarut yang lebih encer cenderung bergerak kearah daerah yang mempunyai kadar zat terlarut lebih tinggi. Tekanan yang dibutuhkan untuk mencegah perpindahan pelarut disebut tekanan osmosis dari sebuah pelarut (Sonjaya 2005).

Tekanan osmotic adalah adanya daya dorongan air yangdihasilkan partikel-partikel zat terlarut di dalam. Molekul-molekul pelarut bergerak melalui membran ke arah pelarut yang lebih pekat atau lebih kental dan tidak merembes melalui membrane. Kecenderungan kentalnya pelarut yang bergerak ke daerah yang mempunyai kadar pelarut yang lebih tinggi (Syaifuddin, 2002).

Tekanan osmotik merupakan sifat koligatif, yang berarti bahwa sifat ini tergantung pada konsentrasi zat terlarut dan bukan pada sifat zat terlarut itu sendiri. Osmosis terbalik adalah sebuah istilah teknologi yang berasal dari osmosis. Osmosis merupakan sebuah fenomena alam dalam sel hidup dimana molekul solvent akan mengalir dari daerah solute rendah ke daerah solute tinggi melalui membran sel atau membran apapun yag memiliki struktur yang mirip atau bagian dari membrane sel. Gerakan dari solvent berlanjut sampai pada sebuah konsentrasi yang seimbang tercapai pada kedua sisi membran (Anonimc, 2008).

Reverse osmosis adalah sebuah proses pemaksaan sebuah solvent dari sebuah solvent dari sebuah daerah konsentrasi solute tinggi melalui sebuah membran ke daerah solute rendah dengan menggunakan sebuah tekanan osmotic. Reverse osmosis merupakan solute dari satu sisi yang menangkap sebuah solute melalui filter dan membiarkan pendapat solvent murni dari sisi sifatnya (Anonimf, 2009).

Bila ditambahkan suatu tekanan pada larutan NaCl (yang arahnya menuju ke larutan air), maka osmosis air kedalam larutan NaCl ini akan menjadi lambat, berhenti atau malahan berbalik ke sisi yang lain. Jumlah tekanan yang dibutuhkan untuk menghentikan proses osmosis itu disebut tekanan osmosis. Suatu membrane yang bersifat permeabel selektif memisahkan dua kolom cairan, dimana kolom yang satu mengandung air dan yang lain mengandung larutan air dan bahan (solut) yang tidak dapat menembus membran (Anonimf, 2009).

Volume setiap kompartemen bukan hanya ditentukan oleh jumlah air yang ada pada membrane dan melewati membran. Tetapi terutama ditentuksn oleh komposisi kimiawinya yang saling terkait. Setiap kompartemen cairan memiliki suatu zat terlarut utama sebagian besar terikat dalam kompartemen itu. Dengan tekanan osmotic, kompartemen itu mengatur volume kalium untuk interseluler, natrium untuk ruang ekstraseluler. Tekanan osmotic tidak tergantung pada kegiatan kimiawi khusus, melainkan tergantung pada jumlah partikel-partikel yang ada di dalam suatu larutan atau kompartemen tertentu (Mikrajuddin, 2002).

Distribusi volume cairan antara plasma dan cairan interstitial, terdapat perbedaan tekanan sebesar 20 mmHg antara plasma dan cairan interstial yang menyebabkan tekanan hidrostatik kapiler lebih tinggi dibandingkan di dalam ruang interstitial. Hal ini menyebabkan kapiler cenderum mendorong cairan melalui porus yang terdapat pada dinding kapiler keluar ke ruang interstitial. Sebaliknya, tekanan osmotik yang disebabkan oleh protein plasma yang disebut tekanan koloid osmotic plasma atau tekanan onkotik cenderum mendorong cairan bergerak secara osmosis dari ruang interstitial ke plasma; sehingga mencegah hilangnya cairan plasma ke ruang interstitial. Selain tekanan kapiler yang mendorong cairan keluar melalui membran kapiler bila tekanannya positif, tetapi akan mendorong keluar bila tekanan negative. Bila tekanan koloid osmotik plasma cenderum menyebabkan osmosis cairan keluar melalui membran. Jadi dapat disimpulkan bahwa kekuatan yang cenderum mendorong cairan keluar dari kapiler menuju ruang interstitial adalah; tekanan kapiler, kapiler cairan interstitial yang negative dan tekanan koloid cairan interstitial. Sedangkan yang cenderum mendorong cairan masuk ke dalam plasma adalah tekanan koloid osmotic plasma dan tekanan cairan interstitial yang positif (Anonimc, 2008).

Keseimbangan osmotik merupakan kekuatan besar untuk memindahkan air agar dapat melintasi membrane sel. Jika cairan interseluler dan ekstraseluler tidak berada dalam keseimbangan osmotik sebagai kekuatan besar ini, maka peruabhan yang relative besar pada konsentrasi zat terlarut impermeabel dalam cairan ekstraseluler dapat menyebabkan perubahan luar biasa dalam volume sel (Watson, 2002).

Keseimbangan osmotic cairan ekstrasel dan intrasel. Bila tekanan osmotic pada salah satu sisi membrane sel meningkat, misalnya dengan memasukkan sel kedalam air, maka pada ke dua sisi membran tidak terjadi keseimbangan osmotik. Bila sel dimasukkan kedalam larutan yang mempunyai osmolalitas yang jauh lebih rendah dibandingkan osmolaritas cairan intrasel, maka segera akan terjadi osmosis air kedalam sel, sehingga sel akan membengkak dan cairan intrasel akan mengalami pengenceran sampai osmolalitasnya sama dengan cairan diluar sel dan proses osmosis akan berhenti. Sebaliknya bila sel dimasukkan kedalam larutan yang mempunyai osmolalitas yang jauh lebih tinggi cairan intrasel. Maka air keluar dari sel melalui proses osmosis, memekatkan cairan intrasel dan mengencerkan sel akan mengkerut, sampai konsentrasi intrasel dan ekstrasel menjadi seimbang (Yusuf, 1995).

Perpindahan air melalui membran dengan proses osmosis dapat terjadi dengan begitu cepat sehingga setiap gangguan keseimbangan osmosis antara kedua kompartemen cairan tubuh di setiap jaringan akan segera dikoreksi dalam beberapa detik atau menit. Namun pada seluruh tubuh kecepatan osmosis tidak berlangsung sedemikian rupa cepatnya oleh karena cairan yang masuk kedalam tubuh harus melalui saluran pencernaan, selanjutnya di transfor oleh osmosis berlangsung. Pada orang normal dibutuhkan waktu sampai 30 menit untuk tercapainya keseimbangan osmotis diseluruh tubuh setelah minum air (Anonimc, 2008).

Tekanan osmosis efektif sebuah larutan dibebankan kepada plasma dinyatakan sebagai tonisitas, Jika sel darah merah ditempatkan dalam cairan yang mempunyai tekanan osmotik sama maka membengkak tidak akan terjadi kelebian air yang masuk dan keluar dan sel tidak membengkak atau larutan demikian disebut isotonic terhadap cairan intraseluler sel, jika larutan selulernya mempunyai tekanan lebih besar disebutg hipertonik terhadap sel sebaliknnya jika larutan selulernya mempunyai tekanan lebih kecil disebut hipotonik (Sonjaya, 2005).

Selain keseimbangan kuantitas air didalam tubuh, cairan tubuh harus memiliki komposisi yang benar, misalnya cairan tubuh harus mengandung keseimbangan elektrolit yang benar. Elektrolit ini adalah partikel kecil yang dipecah dari molekul berbagai garam yang larut dalam air. Elektrolit disebut ion. Elekteolit membawa muatan elektrik dan terdiri dari dua tipe:partikel bermuatan negatif (anion) dan partikel bermuatan positif (kation). Jumlah ion total ion bermuatan negative harus seimbang dengan jumlah total ion bermuatan positif. Keseimbangan asam basa cairan tubuh mempengaruhi pH-nya. Dalam kondisi normal, cairan tubuh sedikit alkali dan bervariasi sengat sedikit selama hidup karena reaksi ini harus tepat untuk kerja berbagai enzim yang mengontrol aktivityas sel (Watson, 2002)

Istilah difusi juga digunakan untuk mendeskrepsikan pergerakan molekul-molekul kecil asam basa dan garam melalui membran semipermeabel. Suatu membran dikatakan bersifat permeabel bila air dan molekul kecil dalam larutan dapat melewatinya, tetapi molekul-molekul besar tidak. Apabila larutan garam dipisahkan dari larutan lemah oleh membran semipermeabel, molekul garam akan menembus membran. Dari larutan yang kuat ke larutan yang lemah hingga kekuatan kedua larutan tersebut sama (Mikrajuddin, 2006).

Gerakan-gerakan darah (molekul ion) cenderum mengisi seluruh ruangan yang tersedia. Darah yang terlarut dalam larutan selalu berada dalam gangguan yang acak-acakan ditempat dimana darah padat itu banyak mengalami tubrukan, menyebar dari daerah konsentrasi tinggi ke daerah konsentrasi rendah sama pada seluruh larutan (Watson, 2002).

Difusi adalah pergerakan molekul secara random (acak) dari suatu bahan, molekul demi molekul baik melalui ruang intermolekuler pada membrane maupun dalam kombinasi dengan protein carrier. Energi yang menyebabkan difusi adalah energi dari gerakan kinetic dari suatu bahan. Seluruh molekul ion-ion yang terdapat dalam cairan tubuh termasuk molekul air dan bahan-bahan yang terlarut berada dalam keadaan bergerak secara konstan dan setiap partikel bergerak dalam arahnya sendiri terpisah dari yang lain. Gerakan ini menimbulkan panas dan semakin besar gerakan, semakin tinggi temperature dan gerakan ini tidak pernah berhenti dalam keadaan apapun, kecuali pada temperatur nol absolut (Anonim, 2009).

Difusi adalah proses dimana gas atau molekul dalam suatu larutan bergerak secara tidak teratur dan secara terus menerus dan mengisi ruang volume dari suatu ruang yang ada. Dalam tubuh difusi tidak hanya terjadi dalam ruangan cair, tetapi terjadi dalam satu ruangan diantara kamar-kamar atau ruangan lainnya terdapat permeabel untuk zat yang berdifusi. Kecepatan difusi melalui tawar lebih lambat daripada kecepatan difusi dalam air. Semua molekul dan ion dalam cairan tubuh, termasuk molekul air dan zat pelarut berada dalam gerakan partkel bergerak sesuai dengan cairannya sendiri. Gerakan ini disebut panas, semakin besar pergerakan maka semakin tinggi suhunya. Air walaupun merupakan molekul yang tidak larut dalam lemak mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk berdifusi melalui membran sel. Misalnya jumlah air melalui membrane sel. Misalnya jumlah air total berdifusi melalui membran sel darah merah dalam setiap detik adalah kira-kira 100 kali lebih besar daripada volume sel darah merah itu sendiri. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh molekul air yang kecil dan energi kinetiknya yang cukup besar sehingga dengan mudah dapat melalui membran sel, sebelum sifat hidrofobik dari membran dapat menghentikan proses difusi tersebut (Syaifuddin, 2002).

Difusi didefinisikan sebagai gerakan molekul dari suatu daerah dengan konsentrasi tinggi ke daerah lain dengan rendah yang disebabkan oleh energi kinetik molekul-molekul tersebut. Laju difusi ada;lah fungsi dari perbedaan konsentrasi, ukuran molekul dan suhu, contohnya sedikit gula ditaruh dalam segelas air maka gula itu akan larut dalam molekul tersebut berdifusi serta tersebar merata dalam cairan. Difusi ion juga dipengaruhi oleh muatan listriknya. Bila terdapat perbedaan potensial antara dua daerah positif akan bergerak menuju gradient listrik menuju daerah yang bermuatan lebih negativ maka ion-ion yang bermuatan negatif bergerak dengan arah yang berlawanan (Sonjaya, 2005).

Difusi melalui membran sel dapat terjadi melalui difusi sederhana dan difusi dipermudah. Difusi sederhana merupakan gerakan kinetic molekuler dari molekul atau ion terjadi melalui celah membran atau ruang intermolekuler tanpa perlu berikatan dengan protein pembawa dalam membran. Kecepatan berdifudi ditentukan oleh jumlah zat yang tersedia dalam kecepatan gerakan kinetic dan jumlah membran sel yang dapat dilalui oleh molekul dimana ion dapat lolos. Hal ini dapat terjadi melalui celah pada lapisan lipid dan saluran licin pada beberapa protein transfor. Difusi yang dipermudah merupakan difusi yang membutuhkan interaksi antara molekul maupun ion dengan protein pembawa. Protein pembawa membantu melewatnya molekul dan ion melalui membrane dan melalui ikatan kimia sehingga molekul atau ion dapat masuk melalui membran (Watson, 2002).

Pada difusi sederhana, molekul akan bergerak melalui lipid bilayer dari membran tanpa membutuhkan energi atau bantuan dari suatu carrier. Langkah pertama dari proses difusi adalah pergerakan dari molekul dari luar sel memasuki daerah hidrofobik dari lipid bilayer. Kecepatan pada suatu difusi mengikuti hokum Fick”s yaitu bahwa kecepatan difusi berbanding langsung dengan perrbedaan konsentrasi, luas permukaan serta permeabilitas, dan berbanding terbalik dengan ketebalan membran. Namun hokum Fic”k in dapat diterapkan pada molekul yang mempunyai mutan, karena difusi darimolekul yang mempunyai muatan listrik tidak saja ditentukan oleh perbedaan konsentrasi, tetapi juga oleh potensial listrik yang timbul sepanjang membran sel (Yusuf 1995).

Difusi dari bahan-bahan yang larut dalam lemak ditentukan oleh kelarutan bahan tersebut didalam lema (lipid solubility). Misalnya, oksigen, nitrogen, karbondioksida dan alkoholmempunyai kelarutan yang tinggi dalam lemak, sehingga dapat dengan mudah berdifusi melalui membran sel. Bahan-bahan yang tidak larut dalam lemak lainnya, hanya dapat berdifusi melalui membran sel bila struktur molekulnya cukup kecil untuk melalui membran sel akan menurun dengan cepat. Miasalnya diameter dari molekul urea hanya 20% lebih besar dari pada molekul air. Tetapi penetrasinya melalui membran sel adalah kira-kira 1000 kali lebih kecil dari pada air. Molekul glukosa yang mempunyai diameter 3 kali lebih besar dari pada molekul air, kecepatan penetrasinya melalui membrane sel adalah 100.000 kali lebih kecil dari pada air (Anonimc, 2009).

Beberapa ion walaupun ukurannya cukup kecil, sangat sulit melalui membran sel. Hal ini disebabkan oleh karena :

1. Adanya muatan listrik dari ion-ion tersebut akan menarik ion hydrogen, sehingga membentuk apa yang disebut hydrate ion. Keadaan ini akan menyebabkan ukuran ion menjadi lebih besar dan sulit melalui membrane sel.

2. Permukaan membran mempunyai muaatan negatif, hal ini dapat menyebabkan membran akan menolak ion-ion yang bermuatan sama pada saat akan masuk melalui membrane sel (Siregar, 2005).

Difusi fasilitas disebut juga sebagai carrier-mediated diffusion, berbeda dengan difusi sederhana dalam dua hal :

1. Difusi fasilitas terjadi melalui carrier yang spesifik untuk suatu bahan

tertentu.

2. Difusi fasilitas mempunyai kecepatan transfort maksimal (Vmax)

(Anonimg,2009).

Kecepatan difusi melalui suatu channel yang terbuka meningkat sesuai dengan konsentrasi bahan yang berdifusi. Pada facilitated diffusion, kecepatan difusi akan mencapai suatu batas maksimal (disebut Vmax) jika konsentrasi bahan tersebut terus ditingkatkan. Sedangkan pada simple diffusion peningkatan konsentrasi bahan akan diikuti dengan meningkatnya kecepatan difusi tanpa adanya suatu limitasi. Perbedaan antara simple diffusion dan facilitated diffusion (Yusuf 1995).

Difusi melalui saluran protein merupakan suatu jalan pintas menembus sela-sela molekul protein. Zat yang dapat berdifusi dengan cara sederhana langsung melalui membran saluran ini dari satu sisi membran ke sisi membrane lainnya. Saluran ini dibedakan oleh dua sifat khas yaitu permeabilitas selektif adalah melakukan transfort satu atau lebih ion yang spesifik, diameter, bentuk dan jenis muatan listriknya di sepanjang muatan dalam mempunyai muatan negatif. Sebaliknya, terdapat serangkaian saluran protein lain yang bersifat selektif untuk mentransfort kalsium yang tidak mengandung muatan negative yang mempunyai daya tarik yang kuat untuk menarik ion-ion agar masuk dalam saluran. Gerbang saluran protein berguna untuk mengatur permeabilitas. Saluran gerbang ini mempunyai perluasan mirip gerbang pada molekul transfor yang dapat menutupi dan membuka saluran dengan cara mengubah bentuk molekul protein itu sendiri. Pada saluran natrium pembukaan dan penutupan terjadi di luar sel (Syaifuddin, 2002).

Berbagai molekul maupun ion dapat melakukan difusi melalui lipid bilayer dari membran atau melalui ion channel. Walaupun demikian harus dimengerti bahwa bahan-bahan yang berdifusi menuju ke suatu arah tertentu dapat pula berdifusi menuju ke suatu arah tertentu dapat pula berdifusi kearah yang berlawanan. Yang penting bukanlah jumlah total bahan yang berdifusi dalam kedua arah tersebut, tetapi perbedaan antara keduanya, yaitu “the net rate of diffusion” dalam suatu arah. Inilah yang dimaksud dengan kecepatan difusi (Anonimc, 2009).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan difusi dari suatu bahan, yaitu :

1. Permeabilitas dari membran sel

2. Perbedaan konsentrasi dari molekul atau ion yang akan berdifusi

3. Perbedaan tekanan pada kedua sisi membrane

4. Perbedaan potensial listrik pada kedua sisi membran

5. Luas permukaan membrane (Anonimc, 2009).

Permeabilitas membran untuk suatu bahan tertentu dinyatakan sebagai kecepatan difusi dari bahan tersebut melalui setiap unit area dari membrane untuk setiap unit perbedaan konsentrasi(jika tidak ada perbedaan muatan listrik atau perbedaan tekanan pada kedua sisi membran). Faktor lain yang mempengaruhi kecepatan difusi adalah luas atau area dari membran. Oleh sebab itu, untuk melakukan permeabilitas yotal dari suatu membran sel maka kita harus mengalihkan permeabilitas membran (per unit area) dengan luas membrane total (total area). Permeabilitas ini disebut sebagai koefisien difusi (Anonimc, 2009).

Perbedaan koefisien dimana suatu membran sel dengan suatu bahan konsentrasi tinggi pada bagian luar dan konsentrasi rendah pada bagian dalam sel. Kecepatan bahan tersebut berdifusi ke dalam sel adalah sesuai dengan kadar molekul pada bagian luar sel. Oleh sebab kadar ini menentukan berapa banyak molekul yang menabrak bagian luar dari channel setiap detik. Sedangkan kecepatan bahan tersebut berdifusi keluar adalah tergantung pada kadarnya di bagian dalam membran sel.

Perbedaan tekanan antara dua sisi dari membrane sel. Miasalnya pada membran kapiler terdapat perbedaan tekanan yaitu tekanan pada bagian dalam membran kira-kira 20 mmHg lebih besar dari pada tekanan luar. Perbedaan tekanan ini menyebabkan gerakan molekul dari sisi dengan tekanan yang lebih tinggi menuju ke sisi dengan tekanan yang lebih rendah (Anonimc, 2009).

Walaupun tidak terdapat perbedaan konsentrasi suatu bahan antara bagian dalam dan bagian luar dari suatu membran, ion-ion dapat bergerak melalui membran oleh karena pengaruh muatan listriknya. Misalnya saja pada net diffusion dari molekul dan ion-ion membrane sel, dimana konsentrasi ion negatif adalah sama pada kedua sisi membran. Jika diberikan muatan positif pada sisi kanan dan muatan negatif pada sisi kiri, maka terjadilah gradient listrik melalui membran. Muatan positif akan menarik ion-ion negatip, sedang muatan negatip akan menolaknya. Akibatnya terjadilah net difusi dari sisi kiri ke sisi kanan. Setelah beberapa waktu maka sejumlah besar ion negatip telah berpindah ke sisi kanan (Anonimc, 2009).

Transpor aktif merupakan pergerakan atau perpindahan molekul-molekul zat melewati membran dengan menggunakan energi. Kita telah mengetahui bahwa sumber energi untuk difusi adalah energi kinetic dari molekul-molekul dan ion-ion. sementara itu, sumber energi untuk transport aktif adalah energi metabolik yangdihasilkan oleh sel (akan disimpan sebagai ATP). Dengan energi tersebut, transpor aktif mampu menggerakan molekul-molekul untuk melawan perbedaan konsentrasi dari molekul yang rendah ke konsentrasi yang lebih tinggi. Energi metabolik itu diperoleh dari makanan dengan cara respirasi saluran seluler sehingga sel-sel yang terlibat dalam proses transfor aktif memiliki banyak mitokondria (Pujiyanto, 2004).

Transpor aktif merupakan kebalikan dari transfor pas pasif dan bersifat spontan. Arah perpindahan dari transport ini melawan gradient konsentrasi. Transfor aktif membutuhkan bantuan dari beberapa protein. Contoh protein yang terlibat dari transfor aktif ialah channel protein dan carrier protein serta ionophores. ATP driven pump merupakan siklus transpor Na+/K+ ATPase. Light driven umumnya ditemukan pada sel bakteri. Mekanisme ini membutuhkan energi cahaya dan contohnya terjadi pada bakteriordopsin. Pompa Na dan K ini melakukan fungsinya dengan memompa keluar 3 ion Na dan memompa 2 ion K kedalam sel. Energi yang digenakan secara langsung berasal dari pemecahan ATP dengan proses hidrolisis. Protein tersebut berfungsi dalam melakukan transfor aktif (Anonime, 2009).

Transfor aktif meruapakan transfor zat yang sangat memerlukan energi untuk itu. Energi ysng diperlukan berupa ATP. Transpor ini terjadi melalui protein integral dan melibatkan tiga protein pembawa unipor, transport substansi pada satu arah, simpor, transport dua substansi berbeda pula dengan satu arah, antipor, transport dua substansi berbeda dengan arah yang berlawanan (Anonime, 2009).

Difusi, filtrasi dan osmosis adalah semua proses pasif dalam pengertian proses tersebut tidak membutuhkan suplai energi. Molekul-molekul yang terlibat bergerak menurut perbedaan konsentrasi atau perbedaan elektrik. Sebagai contoh difusi, molekul bergerak dari kosentrasi tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah, karena tidak dibutuhkan energi. Sebaliknya apabila molekul bergerak dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi akan membutuhkan energi, proses ini disebut transfor aktif. Transfor aktif dilakukan oleh “pompa” protein dalam membran sel dan energi biasanya disuplai oleh metabolisme sel melalui ATP. Diantara berbagai zat yang melakukan transfor aktif adalah ion-ion Natrium, kalium, kalsium, clorida,jod, beberapa gula dan sebagian besar asam-asam amino (Sonjaya, 2005).

Beberapa ion penting harus terus menerus dipertahankan konsentrasinya dalam jumlah tertentu diluar atau didalam sel. Misalnya, konsentrasiion Na+ dicairan ekstrasel harus dipertahankan tetap dalam jumlah yang kecil. Sebaliknya, ion K+, harus dipertahankan dalam jumlah yang besar pada cairan intrasel, dan harus dipertahankan dalam jumlah kecil pada cairan ekstrasel. Dengan demikian, maka kedua tidak dapat ditransfor secara pasif, karena transfor pasif akan menyebabkan terjadinya keseimbangan konsentrasi kedua ion tersebut dalam dan diluar sel. Oleh sebab itu, kedua ion tersebut harus ditransfor melawan perbedaan konsentrasi yang ada diantara kedua sisi membran sel. Oleh sebab itu, kedua ion tersebut harus ditransfor melawan perbedaan konsentrasi yang ada diantara kedua sisi membran sel. Transfor dengan cara ini disebut transfor aktif. Untuk melakukan transfor melawan perbedaan konsentrasi yang ada, maka diperlukan energi (Anonimc, 2009).

Transfor aktif dibagi menjadi dua tipe yaitu berdasarkan sumber energi yang digunakan untuk transfor aktif yaitu: transfor aktif primer dan transfor aktif sekunder. Yang pertama, energi berasal langsung dari pemecahan Adenosin Tri Fosfat (ATP) atau senyawa lain kaya energi posfat. Transfor aktif sekunder, energinya berasal berasal tidak langsung dari perbedaan konsentrasi ion-ion yang terjadi setelah transfor aktif primer. Pada keduanya, transfor bergantung kepada protein pembawa (carrier) ysng penetraasi sepanjang membrane sel yang mampu memberikan energi untuk membawa zat-zat untuk bergerakmelawan perbedaan elektrokimiawi (Sonjaya, 2005).

Diantara berbagai bahan-bahan yang ditransfor secara aktif adalah Na+, K+, Ca2+, Cl-, asam amino dan beberapa ion-ion lainnya. Sesuai dengan energi yang digunakan transfor aktif terdiri dari transfor aktif primer dan transfor aktif sekunder (Anonimc, 2009).

Mekanisme transfor aktif telah banyak dipelajari secara mendetil adalah pompa kalium-natrium, merupakan sebuah proses yang memompa ion natrium keluar melalui membrane sel dan pada waktu yang sama memompa ion kalium dari luar sel ke dalam sel. Pemompaan ini terdapat pada semua sel tubuh, dan dapat bertanggung jawab umtuk pemeliharaan perbedaan konsentrasi ion natrium dan kalium di luar dan di dalam membrane sel dan untuk menciptakan potensial listrasi muatan negative di dalam sel. Proses pemompaan ini merupakan dasar fungsi sel syaraf menyalurkan impuls saraf sepanjang system saraf. Meskipun demikian fungsi protein kecil belum diketahui, tetapi protein bermolekul besar sangat penting untuk fungsi dari pompa yaitu protein mempunyai tiga tempat reseptor untuk mengikat ion-ion natrium pada sebagian protein yang menuju ke dalam interior sel (Sonjaya, 2005).

Pada transfor aktif primer, energi yang digunakan secara langsung berasal dari pemecahan ATP dengan proses hidrolisis. Protein yang berfungsi dalam melakukan transfor aktif primer yaitu :Na+- K+ ATPase) dan Ca2+ pump. Na+ - K+ ATP ase) dan Ca2+Pump. Na+ - K+ pump berperan penting dalam proses metaolisme sel oleh karena berfungsi mempertahankan agar perbedaan konsentrasi ion Na dan ion K didalam dan diluar sel selalu dalam keadaan constant, dan untuk mempertahankan keadaan negatif didalam sel. Pompa Na dan K ini melakukan fungsinya dengan memompa keluar 3 ion Na dan memompa 2 ion K kedalam sel. Pada permukaan dalam pompa Na dan K ini terdapat 3 tempat ion Na terikat (Na binding sites), dan pada permukaan luar, 2 tempat ion K terikat (K binding sites). Obat-obat digitalis seperti guabain, menghambat aktifinitas pompa Na dan K pada sel otot jantung, sehingga konsentrasi ion Na dalam sel tetap tinggi dan kontraksi jantung akan meningkat (Anonimc, 2009).

Selain pompa Na dan K, terdapat juga pompa yang berfungsi mempertahankan konsentrasi ion Ca mdi dalam sel tetap rendah. Pompa tersebut disebut pompa Ca (Ca2+ pimp atau Ca2+ ATPase). Pompa Ca mempertahankan konsentrasi Ca dalam sel sangat rendah. Sekitar 10.000 kali lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi Ca diluar sel. Pompa calcium terdapat pada membrane sel, yang berfungsi memompa Ca keluar dari sel, dan selain itu, pompa Ca juga terdapat pada organel sel, misalnya pada rectikulum sitoplasma. Pompa Ca yang terdapat pada rectikulum sarkoplasma berfungsi memompa Ca dari rectikulum sarkoplasma ke sitoplasma (Anonimc, 2009).

Pada transfor aktif sekunder, bila ion Na ditransfor keluar dari sel oleh mekanisme transfor aktif primer, biasanya terjadi perbedaan konsentrasi Na yang sangat besar-diluar sel konsentrasinya sangat rendah. Perbedaan konsentrasi ini akan merupakan sumber energi yang cukup besar. Energi ini dapat dipakai secara tidak langsung untuk proses transfor aktif. Transfor aktif yang menggunakan energi secara tidak langsung ini disebut transfor aktif sekunder (Anonimc, 2009).

Transfor aktif sekunder dibagi menjadi dua yaitu Co transfort dan counter transfort. Pada proses co-transfort, dimana glukosa atau asam amino ditransfor bersama ion Na, ion Na terikat dengan carrier yang terdapat diluar sel, dimana konsentrasi Na tinggi. Sesuadah terikat dengan Na, afinitas carrier tersebut terhadap glukose atau asam amino meningkat, sehingga glukose atau asam amino akan mudanh terikat pada carrier. Carrier protein tersebut mempunyai 2 binding sites, 1 untuk Na dan 1 lagi untuk glukose atau asam amino. Sifat khas dari carrier ini ialah, bahwa ia tidak akan dapat menstransfort Na masuk kedalam sel, tanpa terikat dengan glukose atau asam amino. Carrier ini akan membawa Na serta glukos atau asam amino masuk kedalam sel. Oleh karena itu didalamnya sel konsentrasi Na lebih rendah, maka Na akan terlepas dari carrier. Lepasnya Na akan menyebabkan glukose atau asam amino juga akan terlepas, walaupun konsentrasi glukose di dalam sel cukup tinggi. Mekanisme transfor ini terutama digunakan untuk transfor glukosa dan asam amino pada sel ephitel tubulus dan usus halus (Anonimc, 2009).

Pada Na-Ca exchabge, 3 ion Na akan ditransfor kedalam sel untuk setiap 1 ion Ca yang ditransfor keluar sel. Na-Ca exchange ini terdapat pada hampir semua membran sel dan berperan aktif dalam mengatur konsentrasi ion Ca intrasel terutama di sel otot jantung dengan demikian mengatur kontraktilitas otot jantung. Na-H exchange terutama berperan dalam mengatur konsentrasi ion Na dan hydrogen pada tubulus prosimal ginjal. Dengan demikian, Na-H exchange berperan dalam mengatur pH didalam sel. Mekanisme kerjanya sama dengan mekanisme kerja sama dengan Na-Ca exchange (Anonimc, 2009).

C. Golongan Darah

A. Golongan Darah Menurut Sistem ABO

Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membrane sel darah merah. Dua jenis penggolongandarah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (factor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang btidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfuse imunologis yang berakibat anemia, hemolisis, gagal ginjal, syok dan kematian (Anonimh, 2009).

Pada permulaan abad ini (tahun 1990 dan 1901), K. Landsteiner menemukan bahwa penggumpalan darah (aglutinasi) kadang-kadang terjadi apabila eritrosit seseorangdicampur dengan serum darah orang lain. Akan tetapi pada orang lain campuran tadi tidak mengakibatkan penggumpalan darah. Berdasarkan reaksi tadi, maka Landsteiner membagi orang menjadi tiga golongan darah yaitu A, B, dan O. Golongan yang keempat jarang sekali dijumpai yaitu golongan darah AB, telah ditemukan oleh dua mahasiswa Landsteiner dalam tahun 1902, yaitu A.V.Von Decastello dan A. Sterli. Dikatakan bahwa antigen atau aglutinogen yang dibawah oleh eritrosit orang tertentu dapat mengadakan reaksi dengan zat anti atau antibody atau agglutinin yang dibawah oleh serum darah. Dikenal dua macam antigen yaitu antigen A dan antigen B. Sedangkan zat antinya dibedakan atas anti A dan anti B. Orang yang memiliki antigen A tidak memiliki anti A, dimasukkan kedalam golongan darah A. Orang yang tidak memiliki antigen A maupun antigen B, tetapi memiliki anti A dan anti B di dalam plasma dimasukkan dalam darah O. Untuk menghindari jangan sampai terjadi penggumpalan darah sebelum dilakukan transfuse darah, baik si pemberi dan penerima diperiksa (Suryo, 1995).

Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antibody dan antigen yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut: Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membrane selnya dan menghasilkan antibody terhadap antigen B dalam seru darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A negative hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O negatif. Individu dengan golongan B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam seru darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B negatif atau O negatif. Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB positif tidak dapat mendonorkan darahnya kecuali pada sesama AB-positif. Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibody terhadap antigen A dan B sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O negatif (Anonimh, 2009).

Pada membran sel darah menjadi merah terdapat berbagai antigenyang disebut agglutinogen. Sampai sekarang telah diketahui lebih dari 300 jenis antigen yang terdapat pada permukaan membran sel darah merah. Yang paling penting untuk diketahui adalah aglutinogen A dan aglutinogen B, serta factor Rhesus atau Rh. Aglutinogen A dan B juga terdapat pada kelenjar saliva, pancreas, ginjal, hati, sperma dan cairan amnion. Aglutinogen ini ditemukan secara genetic dan hal ini akan menentukan jenis golongan darah seseorang (lihat tabel 5).

Tabel 5. Golongan darah dan Genotipnya

Golongan Darah

Genotip

Aglutinogen

Aglutinin

O

OO

-

Anti-A dan anti B

A

AA atau OA

A

Anti-B

B

BB atau OB

B

Anti-A

AB

AB

A dan B

-

Dari tabel 5, diatas dapat dilihat bahwa seseorang dengan golongan darah O tidak membentuk aglutinogen, sedangkan golongan darah B mempunyai 2 jenis aglutinogen. Jadi dasar penggolongan darah menurut system ABO tergantung dari ada tidaknya aglutinogen A atau B. Didalam plasma darah terdapat antibodi yang merupakan gama globulin, disebut agglutinin ini akan menyerang aglutinogen baik secara alamiah maupun terjadi akibat transfuse darah dari golongan darah yang tidak sama. Bila hal tersebut terjadi, akan terjadi proses egglutinasi atau penggumpalan darah. Aglutinasi akan menyebabkan sel darah akan menyumbat kapiler diseluruh tubuh, dan sesudah beberapa waktu sel akan membengkak dan mengalami rupture, dan melepaskan Hb ke dalam sirkulasi. Reaksi ini disebut reaksi hemolisis (Yusuf, 1995).

Golongan darah pada manusia dan hewan didefinisikan sebagai jumlah dari semua antigen serological, factor golongan darah, yang melekat pada membrane sel darah merah. Antigen adalah senyawa kimia, biasanya protein yang bila disuntikkan ke suatu individu yang kekurangan antigen tersebut, akan menyebabkan pembentukan senyawa khusus yang menetralisasi antigen, disebut antibodi. Bila antigen diletkatkan terhadap sel darah merah, reaksi antigen/antibodi menyebabkan kerusakan membrane sel dan melepaskan hameoglobin, Hal ini diketahui sebagai awal pembentukan antibody golongan darah, dapat ditentukan dengan mencampur sel darah merah dalam larutan garam isotonic dalam serum tang diketahui mengandung antibodi. Jika terjadi aglutinasi atau hemolisis golongan darah yang sesuai dapat ditentukan (Sonjaya, 2005).

Faktor golongan darah dari system golongan darah adalah diturunkan secara bebnas satu sama lain. Beberapa system hanya mempunyai satu gen atau satu factor, sedangkan yang lainnya mempunyai lebih. Seoranf individu hanya dapat mempunyai dua gen dengan satu golongan khusus, satu dari setiap pasang kromosom diturunkan dari orang tuanya. Pada manusia pengetahuan golongan darah memudahkan penggunaan darah dalam transfuse darah. Oleh karena jumlah yang banyak dari golongn darah maka jumlah kombinasinya sangat besar (Sonjaya, 2005).

Darah individu tidak selalu bias dicampur secara aman dengan darah individu yang lain. Kenyataan ini diketahui dari transfer atau transfuse darah yang pada mulanya dapat menyembuhka, tetapi juga kadang-kadang membunuh pasien. Hal ini disebabkan darah sebenarnya terdiri dari empat golongan. Apabila darah dari golongan berbeda dicampur, korpuskulus akan pecah dan menjadi lengket dan berkelompok. Hal ini disebut aglutinasi dan bersifat fatal karena kelompok sel darah merah dapat menyumbat pembuluh darah dan menghentikan sirkulasi dan bersifat fatal karena kelompok sel darah merah dapat menyumbat pembuluh darah dan menghentikan sirkulasi dan ginjal akan mengalami kerusakan berat karena harus mensekresi sejumlah besar pigmen dari sel darah merah yang hancur (Watson, 2002).

Transfusi darah meruipakan pemindahan darah dari seseorang kepada orang lain yang membutuhkannya. Pemberi careah disebut donor dan pnerimanya disebut resipien Transfusi sebaiknya dilakukan dengan golongan darah yang sama, karena golongan donor berbeda dengan golongan darah resipien dapat terjadi hemolisis. Bila seseorang sangat membutuhkan penambahan darah melalui transfuse padahal tak ada donor yang mempunyai golongan darah tertentu dengan sangat hati-hati dan terlebih dahulu melakukan test kompabilitas darah donor dan resipien (Anonimb, 2009).

B. Golongan Darah Rhesus (Rh)

Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan factor Rhesus atau factor Rh. Nama ini diperoleh dari monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki factor ini pada tahun 1940 oleh Karl Landsteiner. Seseorang yang tidak memiliki factor Rh dipermukaan sel darah merahnya memiliki golongan darah Rhesus atau Rh-, mereka yang memiliki factor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki factor Rh+. Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan darah ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai meskipun pada daerah tertentu golongan darah A lebih dominant, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B (Anonimh, 2009).

Di samping antigen dan system ABO, antigen dari system Rh mempunyai anti klinis yang sangat penting. Faktor Rh yang dinamai sesuai dengan nama monyet rhesus karena antigen ini pertama kali diteliti dengan menggunakan darah binatang ini adalah suatu sistem yang terutamanya mengandung atau tersusun dari C, D, E. Meskipun sebenarnya mengandung banyak lagi. Tidak seperti antigen ABO, sistem ini belum pernah dideteksi di jaringan selain sel darah meraj. Lokus golongan darah Rh tersusun atas dua molekul yang terkait antibodi Rh jarang timbul secara alamiah. Sebagian besar bersifat imun, antibodi tgersebut sebagian dahasilkan dari transfusi atau kehamilan sebelumnya. Anti D bertanggung jawab untuk sebagian besar masalah subyek secara sederhana menjadi Rh-D positif dan Rh negatif (Ganong, 2002).

Individu yang memiliki golongan darah Rh disebut Rh+. Namun sekitar dari 15% populasi rhesus negatif (Rh-). Apabila seseorang dengan Rh- menerima darah dari seseorang donor dengan Rh+, maka aglutinogen akan merangsang aglutinin anti Rh+ yang disebut dengan anti-D. Apabila transfusi diberikan dengan darah Rh+ diberikan keduanya, maka sel darah merah donor akan diaglutinasi dan dihancurkan (hemolisis. Hal ini akan berakibat fatal pada resipien dan faktor ini juga bisa mrenimbulkan masalah selama masa hamil. Apabila ibu dengan Rh- mengandung janin dengan Rh+, maka ibu mulai membentuk aglutionin anti Rh yang dapat menghancurkan sel darah merah bayi. Bayi mungkin dapat mengatasi masalah ini secara spontan atau bisa juga diperlukan transfortasi tukar (Watson, 2002).

C. Sisten Golongan Darah Lain

Sistem golongan darah lain memiliki lebih sedikit kepentingan klinis. Walaupun antibodi alamiah sistem P.lewis dan MN lazim dijumpai, antibodi tersebut biasanya hanya bereaksi pada suhu rendah sehingga tidak dapat menimbulkan masalah klinis. Antibodi imun terhadap antigen sistem-sistem tersebut jarang terdeteksi. Banyak diantara antigen tersebut mempunyai antigenitas yang rendah dan lainnya, walaupun secara immunogenik sebanding lebih jarang ditemukan sehingga kecil kemungkinan untuk terjadi isomunisasi kecuali pada pasien yang mendapat transfusi multipel (Haffbrand, 2005).

Ada sistem semacam Rh, Lutheren, Kell, Kidd dan banyak lain. Ada lebih dari 500 kemungkinan fenotip golongan darah yang dikenal dan karena tentu saja ada antigen yang belum ditemukan. Pernah ada yang menghitung jumlah fenotip sebenarnya dalam trilliunan dan ternyata jumlah golongan darah pada binatang sama besarnya dengan yang ada pada manusia. Penyakit tertentu lebih sering ditemukan pada orang yang mempunyai suatu golongan darah atau golongan darah lain (Ganong, 2002).

D. Berat Jenis Darah

Gravitasi suatu jenis zat adalah indeksi atau ratio berat zat tersebut dibandingkan dengan berat jenis air yang volumenya sama dengan zat yang disebut tadi, suatu zat yang beratnya kuran g dari berat jenis air volumenya dan akan mempunyai gravitasi jenis kureang dari 1,00 apabila beratnya lebih, maka gravitasinya juga lebih dari 1,00. Pengukuran gravitasi jenis ini biasanya dilakukan dengan mewujudkan hidrometer. Hidrometer yang digunakan untuk mengukur gravitasi jenis cairan seperti dalam pengujian untuk pengetesan aki atau baterai, muatan zat anti radiator mobil (Frandson, 1999).

Darah memiliki gravitasi jenis sedikit tinggi kandungan airnya terutama disebabkan oleh adanya sel-sel darah merah dan sel darah putih. Kedua jenis darah ini mamiliki berat jenis yang bervariasi antara spesies yang satu dengan yang lainnya. Pada hewan domba 1,042, sapi 1,043, anjing dan manusia 1,059 sedangkan pada babi dan kuda memiliki berat jenis darah sebesar 1,060 (Frandson, 1999).

Berat jenis darah bervariasi dari 1,03e0-1,060 sedangkan berat jenis plasma bervariasi dari 1,024-1,028, darah terdiri dari dua bagian, yaitu sel-sel darah merah (butiran-butiran)dan cairan darah (plasma darah) (Anonimd, 2009).

Cara menentukan berat jenis darah dilakukan dengan cara kimia dengan menggunakan CuSO4 dengan bera jenis yang bermacam-macam kemudian meneteskan darah yang hendak diperiksa ke dalam masing-masing larutan CuSO4, dan didapat hasil bila berat jenis darah sama dengan berat jenis CuSO4 yang lebih besar ia akan mengapung tepat dibawah permukaan. Perbedaan sebesar 0,0005 sudah diangkap signifikan dan akurat. Bila berat jenis CuSO4 sama dengan berat jenis darah maka ia akan tetap berada dibawah permukaan bila berat jenis CuSO4 yang lebih besar ia akan menggembang di permukaan. Berat jenis normal yaitu 1,059 (1,059-1,060) merupakan berat jenis hematokrit dan 1,005 merupakan berat jenis homodilusi (Anonimd, 2009).

Darah merupakan cairan tubuh y6ang terdapat dalam jantung dan pembuluh darah. Beberapa cairan tubuh yang lain adalah cairan jaringan. Berat jenis darah bervariasi dari 1,054-1,060. Sedangkan berat jenis darah plasma dari 1,024-1,028 (Anonimd, 2009).

Untuk menentukan berat jenis darah , dapat juga dilakukan dengan tiga jenis cara yaitu dengan menggunakan pinometer, cara philips, dan dengan cara kammerachlac. Cara niknometer yaitu piknometer diisi dengan darah lalu ditimbang dari hasil-hasil timbangan tersebut dapat ditentuksn berat jenisnya dengan menggunakan larutan CuSO4 standar (yang lebih diketahui nilai Bjnya) cara kammerachlag yaitu dengn menggunakan campuran benzol yang telah diketahui dengan menggunakan kloroform (Sonjaya, 2005).

Berat jenis adarah adalah 1,04-2,05. Tekanan osmosis tergantung pada konsentrasi protein plasma dan viskositas atau kekentalan darah sebagai cairan suspensi. Derajat kesamaan (ph) berkisar antara 7-8, mempunyai sistem buffer melalui ion CO2, NH3, dan H+. Darah mengandung sekitar 80% air dan 20% bahan organik, sementara bahan organiknya sekitar 1%. Warnah darah bervariasi sesuai dengan kandungan oksigen. Darah arteri kaya oksigen dan mempunyai massa jenis antara 7,35-7,45 sedikit berada di daerah yang memiliki basa netral (Sonjaya, 2005).

Darah pemeriksaan laboratorium beberapa halyang harus diperhatikan yaitu :

- Berat jenis dengan batas normal 11,001-1,035.

- Alat yang digunakan dalam jumlah banyak darah yang akan digunakan

- Darah normal yang diletakkan atau diteteskan pada larutan CuSO4 0,5% yang berat jenisnya 1,051 (Anonimd, 2009).

Gravitasi atau berat jenis darah merupakan suatu indeks terhadap suatu tatapan pada suatu zat tertentu dan memiliki variasi yang berbeda tergantung pada jenis individu atau makhluk hidup. Gravitas jenis suatu zat merupakan rasio berat suatu zat dibanding dengan berat jenis air. Suatu zat yang beratnya kurang dari berat jenis air dan memiliki volume sama, akan tetapi mamiliki gravitasi yang sama juga. Pengukuran gravitas jenis ini biasanya menggunakan hidrometer. Darah memiliki gravitasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan air (Syaifuddin, 2002)

Dalam proses pengukuran berat jenis dapat diketahui terdapat dua macam cara yakni cara kimia dan philips. Cara menentukan berat jenis darah dapat dilakukan dengan cara kimia dengan menggunakan CuSo4 dengan berat jenis yang bermacam-macam kemudian meneteskan darah yang hendak diperiksa ke dalam masing-masing larutan CuSo4, maka ia akan mengapung tepat dibawah permukaan. Perbedaan sebesar 0,0005 yang sudah dianggap signifikasi dan akurat. Bila berat jenis CuSO4 yang sudah didapat sama dengan berat jenis darah maka ia akan tepat berada dibawah permukaan. Berat jenis CuSO4 yang lebih besar ia akan mengembang ke permukaan. Untuk menentukan berat jenis darah juga dapat digunakan piknometer yaitu dengan cara piknometer diisi dengan menggunakan darah lalu ditimbang, dari hasil-hasil timbang tersebut dapat ditentukan berat jenisnya dengan menggunakan larutan CuSO4 standar (Sonjaya, 2005).

Gravitas suatu jenis darah adalah indeks atau ratio berat zat tersebut dibandingkan dengan berat jenis air yang volumenya sama dengan zat yang disebut tadi. Suatu zat yang beratnya kurang dari berat jenis air yang volumenya dan akan mempunyai gravitasi jenis yang kurang dari 1,00 dan apabila beratnya lebih, amak gravitas juga akan lebih dari 1,00 (Frandson, 1999).

METODOLOGI PRAKTIKUM

Waktu dan Tempat

Praktikum Darah II (Hemolisa dan Krenasi Darah, Tekanan Ostmotik, dan Berat Jenis Darah) dan Praktikum V (Golongan Darah, Tekanan Darah, dan Diferensiasi Leukosit) dilaksanakan pada hari jum`at tanggal 28 Februari 2009 pukul 14.00 WITA- Selesai bertempat di Laboratorium Fisiologi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Materi Praktikum

Alat yang digunakan pada Praktikum Darah II & V ini adalah Mikroskop, Vaccinostyle, Gelas objek, Gelas arloji, tabung reaksi dan raknya, serta spoit atau pipet, sphygmomanometer. Stetoskop, haemocytometer

Bahan yang digunakan pada Praktikum Darah II & V ini adalah Larutan NaCl 0,3%, 0,45%, 0,9% dan I,5%, Citras Natricus 3,8%, Larutan Ureum 1,8 % dalam aquadest, Alkohol dan Kapas, sample darah (Ayam potong, Ayam petelur, Ayam kampong, Kambing, Sapi, dan Manusia), anti koagulan (Na-Citrat 3,8% dengan perbandingan 4:1), larutan Ureum 1,8% dalam NaCl 0,9%, dan sabun.

Metode Praktikum

A. Hemolisa dan Krenasi

Mengambil gelas arloji bertanda A, B, C, kemudian menuangkan masing-masing 1 tetes darah pada setiap bagian dalam gelas arloji, tetapi sebelumnya memberikan 1 tetes aquadest pada bagian A, 1 tetes NaCl 3% pada tabung B, dan membiarkan tabung C sepereti semula, Kemudian mencampur larutan tersebut dengan samprl darah dan mengamatinya di atas kertas putih. Mengamati apakah terdapat endapan dan terjadi kekeruhan. Lalu mengamati terus dan mengambil masing-masing setetes dari gelas arloji tadi kemudian mengamatinya di bawah miskroskop dan menggambarnya apa yang kemudian terlihat atau nampak.

B. Tekanan Osmotik Eritrosit

Memberi nomor seri pada tabung reaksi yang bersih 1-6, kemudian memasukkan larutan NaCl 3% dalam tabung. Kemudian memasukkan aquadest pada setiap tabung dari seluruh larutan menjadi 5 cc, mencampur larutan tersebut dengan baik dan menghitung kadar NaCl dari setiap tabung. Lalu membersihkan tangan sengan alcohol 70% dan menusuk jari telunjuk dengan menggunakan vaccinostyle dan meneteskan darah yang keluar dari ujung jari ke dalam setiap tabung sebanyak 1 tetes, lalu mencampurnya dengan sangat hati-hati. Setelah 3 menit, kemudian mengamati setiap tabung apakah terlihat lapisan merah pada bagian atas atau tidak. Lalu mengamati perubahan yang terjadi pada tabung 1-6.

C. Berat Jenis Darah

Darah dimasukkan ke dalam tabung laktodensimeter, kemudian menempatkannya di temat yang rata dan datar. Memasukkan laktodensimeter ke dalam tabungdan membaca skalanya. Kemudian mencatat dan membandingkan pada berbagai sampel darah yang ada.

D. Golongan Darah

Kita menggunakan onyek glass yag tertulis serum anti A, anti B, dan serum anti D. Kemudian meneteskan masing-masing 1 tetes darah ketiga anti serum tersebut. Untuk anti serum A ditambah serum anti A, untuk serum B ditambah serum B dan untuk serum D ditambah dengan anti D dan mengamati apakah obyek glass tersebut terjadi penggumpalan atau koagulasi atau tidak.

Analisa Data

Darah yang diperoleh pada praktikum Tekanan Osmotik Eritrosit diolah dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan :

N1 = Konsentrasi awal NaCl

N2 = Konsentrasi akhir NaCl

V1 = Volume awal larutan

V2 = Volume akhir larutan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hemolisa dan Krenasi

Berdasarkan Praktikum Fisiologi Ternak Dasar, yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut :

Gambar 5. Hasil Pengamatan Darah dalam Gelas Arloji

LABORATORIUM FISIOLOGI TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2009

Secara Makroskopis

A B C

Secara Mikroskopis

























Hemolisa Krenasi

Preparat : Darah Manusia

Perbesaran : 40X

Keterangan : A. Darah + Aguadest

B. Darah + NaCl 3%

C. Darah

Sumber : Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak Dasar, 2009

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa gelas arloji yang dilihat dengan cara makroskopis terlihat bahwa darah dengan perlakuan kontrol tidak mengalami perubahan dan dibawah miskroskop terlihat bentuk sel darah merah yang tidak jelas. Perlakuan yang berbeda terlihat bentuk sel darah merah yang tidak jelas. Perlakuan yang berbeda terlihat pada gelas arloji dan diberi NaCl, setelah diletakkan di bawah miskroskop larutan terdapat bentuk sel yang kabur. NaCl merupakan larutan yang hipertonis yang mempunyai konsentrasi tinggi sehingga menyebabkan sel darah mengalami krenasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1999), yang menyatakan bahwa larutan yang berkonsentrasi tinggi akan menyebabkan sel darah akan mengalami krenasi sedengkan air yang masuk ke dalam sel darah akan menyebabkan pembengkakan dan kemudian sel darah merah akan mengalami hemolisa.

Adapun faktor-faktor yang mengalami hemolisa yaitu plasma dan hipotonis, pengocokan dan lain-lain, sedangkan krenasi disebabkan oleh zat yang bersifat hepertonis. Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (2002), yang menyatakan bahwa krenasi disebabkan oleh plasma yang hipertonis, pengocokan bergantian dibekukan oleh pemanasan kurang dari 640C, dinding sel yang rusak oleh zat kimia atau tegangan permukaan plasma yang diperendah.

Pada larutan B, larutan tidak keruh atau menembus pandangan. Hal ini disebabkan oleh membran yang terlalu banyak. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2005), yang menyatakan bahwa hemolisis adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari sel darah yang disebabkan oleh medium atau plasma hipotonis.

Osmolaritas adalah pelarut zat melalui membran dari daerah yang kadar zat pelarutnya lebih tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2005) yang menyatakan bahwa osmolaritas adalah gerakan molekul pelarut (air) melalui membran yang hanya permeabel untuk air, tetapi tidak untuk zat terlarut ke arah daerah yang mengandung kadar zat terlarut yang lebih pekat.

Hipertonis merupakan larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih besar daripada tekanan osmosis SDA. Larutan hipertonis merupakan larutan yang mempunyai tekanan osmosis lebih kecil daripada tekanan osmosis SDM dan isotonis merupakan larutan yang memiliki tekanan osmosis yang sama dengan tekanan osmosis SDM. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaifuddin (2002), yang menyatakan bahwa larutan hipertonis merupakan larutan NaCl yang konsentrasinya kurang dari 0,9%, larutan hipotonis merupakan larutan yang konsentrasinya NaClnya kurang dari 0,9% dan larutan isotonis merupakan larutan yang konsentrasi NaClnya sama atau sebanyak 0,9%.

B. Tekanan Osmotik Eritrosit

Berdasarkan Praktikum Fisologi Ternak Dasar, yang telah dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut:

Gambar 6. Hasil Pengamatan Tekanan Osmotik Eritrosit

LABORATORIUM FISIOLOGI TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2009

Keterangan :

I : 0,3 cc NaCl 5% + 5 tetes darah = Merah Bata (Hemolisa)

II : 0,45 cc NaCl 5% + 5 tetes darah = Merah Terang (Hemolisa)

III : 0,9 cc NaCl 5% + 5 tetes darah = Merah (Hemolisa)

IV : 1,5 cc NaCl 5% + 5 tetes darah = Merah Muda (Hipertonik)

V : 3 cc NaCl 5% + 5 tetes darah = Merah Bening (Krenasi)

Sumber : Data Hasil Praktikum Fisioloigi Ternak Dasar, 2009

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa tabung I terdapat endapan dn berwarna merah bata dan merngalami hemolisa, pada tabung II dan III berwarna merah terang dan merah yang mengalami hemolisa, sedangkan pada tabung IV tidak mengalami hemolisa dan merupakan isotonis terhadap larutan dimana konsentrasi NaClnya diatas dari dari 0,9% sehingga dikatakan sebagai larutan hipertonis, sehingga masih tetap berwarna merah, hal ini dikarenakan hemoglobin masih utuh dan tetap dapat mempertahankan warna merah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2005), yang menyatakan bahwa larutan isotonis merupakan larutan yang sifatnya netral atau seimbang antara zat dan cairan dalam darah sehingga darah masih bisa tetap berwarna merah.

Pada tabung V terjadi krenasi sempurna, hal ini ditandai dengan perubahan warna dan bentuk sel yang mengkerut jika diperhatikan lebih jelas dibawah miskroskop dengan perbesaran 40X. Hal ini dapat terjadi karena disebabkan adanya larutan yang hipertonik. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1999), yang menyatakan bahwa adanya pergerakan air keluar dari sel dan terjadinya pengkerutan pada sel dapat disebabkan karena adanya cairan atau larutan yang bersifat hipertonik yang ada dalam darah tersebut.

Krenasi adalah proses pengkerutan sel darah akibat adanya larutan hipotonis dan hipertonis. Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (2002) yang menyatakan bahwa krenasi merupakan peristiwa dimana sel terjadi pengkerutan akibat adanya cairan atau larutan yang memiliki sifat yang hipotonik dan hipertonis. Faktor penyebab krenasi yaitu adanya peristiwa osmosis yang menyebabkan pergerakan air di dalam sel sehingga ukuran sel menjadi berkurang atau mengecil. Proses yang sama juga terjadi pada tumbuhan yaitu plasmolisis dimana tumbuhan juga akan mengecil karena dimasukkan dalam larutan yang hipertonik. Krenasi ini dapat dilakukan penggembalian sehingga dapat kembali seperti semula dengan cara menambahkan cairan atau larutan ke dalam intermediater luar eritrosit.

Hemolisis adalah suatu proses dimana sel-sel darah merah terlepas dalam plasma atau dengan kata lain keluar dari plasma. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1999) yang menyatakan bahwa hemolisis merupakan suatu peristiwa dimana pada sel-sel darah merah terjadi karena adanya toksis bakteri, bisa ular dan parasit darah serta zat-zat lainnya. Hemoglobin yang berada di dalam darah serta zat-zat lainnya. Hemoglobin yang berada di dalam plasma menyebabkan warna merah dan keadan tersebut dapat dikatakan sebagai hemoglobinemia.

Tekanan osmotik adalah tekanan yang dibutuhkan untuk mencegah perpindahan pelarut melalui membran ke arah daerah yang mengandung kadar zat terlarut yang lebih pekat. Osmosis adalah gerakan molekul pelarut air melalui membran ke arah daerah yang mengandung kadar zat terlarut yang lebih pekat sedangkan difusi adalah gerakan molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2005) yang menyatakan bahwa Tekanan osmotik adalah tekanan yang dibutuhkan untuk mencegah perpindahan pelarut melalui membran ke arah daerah yang mengandung kadar zat terlarut yang lebih pekat. Osmosis adalah gerakan molekul pelarut air melalui membran ke arah daerah yang mengandung kadar zat terlarut yang lebih pekat sedangkan difusi adalah gerakan molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah.

Sifat membran sel yaitu semipermeabel. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2005) yang menyatakan bahwa membran sel tidak hanya semipermeabel, membiarkan zat-zat tertentu merembes melintasinya dan menahan zat-zat tertentu, akan tetapi daya perembesan dapat pula berubah-ubah.

D. Berat Jenis Darah

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan mengenai berat jenis darah, maka diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 6: Berat Jenis Darah Pada Ternak

Kelompok

Jenis Ternak

Berat jenis darah

I

Ayam Potong

1,044

II

Sapi

1,048

III

Ayam Petelur

1,044

IV

Kambing

1,044

V

Ayam Kampung

1,050

Sumber : Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak, 2009.

Berdasarkan tabel 6, di atas maka dapat diketahui bahwa pada kelompok I dengan menggunakan sampel darah ayam potong berat jenis darahnya yaitu 1,044, pada kelompok II dengan sampel darah sapi berat jenis darahnya yaitu 1,048, pada kelompok III dengan sampel darah ayam petelur dengan berat jenis 1,044, dan pada kelompok IV dengan sampel darah kambing dengan berat jenis 1,044 sedangkan pada kelompok V dengan sampel darah ayam kampung dengan berat jenis 1,050. Hasil pada masing-masing kelompok untuk setiap sampel darah memiliki berat jenis yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1999), yang menyatakan bahwa gravitasi jenis suatu jenis darah sangat bervariasi dan tergantung pada jenis darah itu sendiri pada setiap ternak.

Berat jenis darah pada setiap hewan berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan pendapat Schoteillus (1987) yang menyatakan bahwa berat jenis untuk ayam berkisar antara 1,042-1,050, pada domba dan kambing berkisar 1,044 dan pada sapi berkisar 1,48 serta pada kuda dan babi berkisar 1,060.

Berat jenis darah adalah indeks berat darah dibanding dengan berat air pada volume yang sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa berat jenis darah adalah indeks berat zat pada dibandingkan dengan air yang volumenya sama dengan zat tersebut tadi.

Faktor yang mempengaruhi berat jenis darah yaitu perbedaan berat jenis darah yaitu perbedaan berat jenis darah dan adanya zat lain yang terkandung dalam darah. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1993) yang menyatakan bahwa darah memiliki berat jenis darah yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan berat jenis air terutama disebabkan oleh sel darah merah lebih berat dibandingkan dengan sel darah putih dan kedua jenis sel tersebut lebih berat dibandingkan dengan berat jenis plasma.

Gravitasi atau berat jenis darah merupakan suatu indeks terhadap suatu tatapan pada suatu zat tertentu dan memiliki variasi yang berbeda tergantung pada jenis individu atau makhluk hidup. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaifuddin (2002), yang menyatakan bahwa gravitas jenis suatu zat merupakan rasio berat suatu zat dibanding dengan berat jenis air. Suatu zat yang beratnya kurang dari berat jenis air dan memiliki volume sama, akan tetapi mamiliki gravitasi yang sama juga.

Dalam proses pengukuran berat jenis dapat diketahui terdapat dua macam cara yakni cara kimia dan philips. Hal ini sesuai dengan pendapat sonjaya (2005) yang menyatakan bahwa cara menentukan berat jenis darah dapat dilakukan dengan cara kimia dengan menggunakan CuSo4 dengan berat jenis yang bermacam-macam kemudian meneteskan darah yang hendak diperiksa ke dalam masing-masing larutan CuSo4, maka ia akan mengapung tepat dibawah permukaan. Perbedaan sebesar 0,0005 yang sudah dianggap signifikasi dan akurat. Bila berat jenis CuSO4 yang sudah didapat sama dengan berat jenis darah maka ia akan tepat berada dibawah permukaan. Berat jenis CuSO4 yang lebih besar ia akan mengembang ke permukaan. Untuk menentukan berat jenis darah juga dapat digunakan piknometer yaitu dengan cara piknometer diisi dengan menggunakan darah lalu ditimbang, dari hasil-hasil timbang tersebut.

Gravitas suatu jenis darah adalah indeks atau ratio berat zat tersebut dibandingkan dengan berat jenis air yang volumenya sama dengan zat yang disebut tadi. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1999) yang menyatakan bahwa suatu zat yang beratnya kurang dari berat jenis air yang volumenya dan akan mempunyai gravitasi jenis yang kurang dari 1,00 dan apabila beratnya lebih, amak gravitas juga akan lebih dari 1,00. Pengukuran gravitasi jenis ini biasanya dilakukan dengan mewujudkann hidrometer jenis ini biasanya digunakan untuk menguavitas jenis cairan seperti dalam pengukuran atau pengujian untuk pengetesan aki atau baterai maupun zat anti radiator untuk mobil.

C. Penggolongan Darah

Berdasarkan Praktikum Fisiologi Ternak Dasar mengenai golongan darah yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut :

Gambar 6. Hasil Pengamatan Darah dalam Gelas Arloji

LABORATORIUM FISIOLOGI TERNAK

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2009

Pria Wanita

















Anti- A Anti-B Anti- A Anti- B




D D

Keterangan :

Pria Wanita

Nama : Supardi Rahman Nama : Fadliah NS

Umur : 19 tahun Umur : 19 tahun

Gol.Darah : B Gol.Darah : A

Sumber : Data Hasil Praktikum Fisiologi Ternak Dasar, 2009

Berdasarkan gambar di atas diperoleh hasil bahwa pada pria yang bernama Supardi Rahman diperoleh golongan darah B sedangkan pada wanita yang bernama Fadliah NS tergolong darah A. Hal ini dapat terjadi karena pada gelas arloji pria bagian yang diberi anti serum anti A tidak terjadi perubahan sedangkan pada serum anti B terjadi aglutinin. Sedangkan pada darah wanita, gelas arloji yang diberi anti serum anti A terjadi aglutinin sedangkan pada serum B tidak terjadi perubahan karena dalam darah tersebut tidak ada reaksi sama sekali. Hal ini sesuai dengan pendapat Frandson (1999), yang menyatakan bahwa bila aglutinogen tipe A terdapat dalam sel darah merah seseorang dalam plasmanya tersbentuk antibodi yang dikenal sebagai antiglutinin anti A. Dan bila tidak terdapat aglutinogen tipe B dalam sel darah merah atau plasmanya terbentuk antibodi aglutinin B. Sedangkan bila aglutinogen tipe B terdapat dalam sel darah merah seseorang dalam plasmanya tersbentuk antibodi yang dikenal sebagai antiglutinin anti B. Dan bila tidak terdapat aglutinogen tipe A dalam sel darah merah atau plasmanya terbentuk antibodi aglutinin A. Golongan darah B mengandung aglutinogen B dan aglutinin A sedangkan Golongan darah A mengandung aglutinogen A dan aglutinin B.

Data yang diperoleh dari gambar 6, dimana golongan darah bagi pria yaitu golongan darah B karena pada saat pemberian anti serum B tidak terjadi penggumpalan atau aglutinasi dan wanita bergolongan darah A karena pada saat pemberian anti serum A tidak menggumpal atau tidak terjadi aglutinasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Karman (1984) yang menyatakan bahwa golongan darah didasarkan pada ada tidaknya antigen yang terkandung dalam eritrosit. Golongan darah B jika dalam eritrosit mengandung aglutinogen B sedangkan golongan darah A jika dalam eritrositnya mengandung aglutinogen A. Golongan darah pada manusia dan hewan diartikan sebagai jumlah semua antigen serologika lain.

Pada permukaan dinding sel eritrosit terdapat dua sifat antigenitas yaitu aglutinin dan aglutinogen. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaifuddin (2002) yang menyatakan bahwa aglutinogen merupkan dua antigen yang berbeda namun memiliki pertautan atau hubungan. Tipe A dan tipe B, dan terdapat pada permukaan eritrosit berbagai orang. Sedangkan aglutinin berasal dari plasma dari dalam plasma.

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat diketahui bahwa pria yang memiliki golongan darah B yang setelah diberikan antiserum A, dan AB tidak terjadi penggumpalan (aglutinasi). Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (20050 yang menyatakan bahwa dari golongan A dapat diberikan pada orang yang tidak memiliki antibodi A yaitu golongan darah A dan AB. Hal ini sesuai dengan golongan B hanya dapat diberikan kepada orang yang tidak memiliki antibodi B, yaitu orang yang ebrgolongan darah B dan AB. Golongan darah AB hanya dapat diberikan kepada resipien darah AB karena golongan darah AB tidak memiliki antibodi sedangkan golongan darah yang lainnya memiliki antibodi. Orang bergolongan darah AB disebut donor universal karena darah O dapat menjadi donor karena tidak memiliki aglutinogen.

Golongan darah ialah sejumlah antigen serologik partikel darah yang melekat pada membran sel darah merah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2008) yang menyatakan bahwa golongan darah mengandung pengertian sejumlah antigen serologik partikel darah yang melekat pada membran sel darah merah.

Antigen adalah senyawa kimia biasanya protein yang diberikan kepada suatu individu yang kekurangan antigen sedangkan aglutinin adalah suatu senyawa yang menetralisir antigen. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2005) yang menyatakan bahwa antigen adalah senyawa kimia biasanya protein yang diberikan kepada suatu individu yang kekurangan antigen sedangkan aglutinin adalah suatu senyawa yang menetralisir antigen.

Golongan darah pada manusia dan hewan diartikan sebagai jumlah semua antigen serologika lain. Faktor golongan darah yang melekat pada membran sel darah. Reaksi transfusi akibat golongan darah tidak cocok. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaifuddin (2008) yang menyatakan bahwa reaksi transfusi darah yang ditrnsfusikan akibat golonagn darah tidak cocok terjadi karena darah yang ditransfusikan menyebabkan aglutinasi sel-sel resipien. Bagian plasma darah donor dengan segala cara diencerkan oleh semua sel aglutinin merupakan gamma globulin halnya dengan antibodi lainya yang dihasilkan oleh sel-sel yang sama dengan yang dihasilkan antigen untuk setiap antigennya. Antigen A dan B dalam jumlah sedikit masuk ke dalam tubuh melalui makanan. Zat ini mengawali pembentukan aglutinin anti A dan aglutinin anti B.

Golongan darah pada setiap individu berbeda-beda dan setiap orang tidak bisa mendonorkan darahnya dan menerima darah dari orang lain yang memiiliki golongan darah yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan pendapat Watson (2002) yang menyatakan bahwa darah individu tidak selalu bisa dicampur secara aman dengan darah individu lain. Kenyataan ini diketahui dari transfusi darah yang pada mulanya dapat menyembuhkan tetapi kadang-kadang malah dapat membunuh pasien. Hal ini dapat disebabkan karena darah yang salah. Apabila darah yang berbeda dicampur dengan golongan darah yang berbeda pula maka korkuskulus merah akan menjadi lengket dan menggumpal sehingga dapat membentuk kelompok. Hal ini disebut dengan aglutinasi8 dan bersifat fatal karena kelompok sel darah merah dapat menyumbat pembuluh darah dan menghentikn sirkulasi dan ginjal akan dapat mengalami kerusakan berat karena harus mengsekresi sejumlah besar pigmen sel darah merah yang hancur.

Faktor golongan darah dari sistem golongan darah adalah diturunkan secara bebas satu sama lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2005) yang menyatakan bahwa faktor golongan darah diturunkan secara bebas. Beberapa sistem hanya mempunyai satu gen atau satu faktor sedangkan yang lainnya mempunyai lebih.

Penggolongan darah dilakukan untuk memudahkan transfusi darah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2005) yang menyatakan bahwa pada manusia, pengetahuan akan golongan darah memudahkan penggunaan darah dalam transfusi darah. Dilihat dari aspek keturunan golongan darah, golongan darah dapat ditentukan untuk menentukan keturunan baik untuk kepentingan manusia maupun dalam pemuliabiakan ternak.

Adapun tabel 7. penggolongan darah yaitu sebagai berikut :

Dari tabel 7 diatas, darah dari golongan darah A hanya dapat diberikan kepada orang yang tidak mempunyai antibodi a yaitu golongan darah A dan AB. Golongan darah B hanya dapat diberikan kepada orang yang tidak mempunyai antibodi b yaitu golongan darah B dan AB. Hal ini sesuai dengan pendapat Sonjaya (2008) yang menyatakan bahwa golongan darah A hanya dapat diberikan kepada orang yang tidak mempunyai antibodi a yaitu golongan darah A dan AB. Golongan darah B hanya dapat diberikan kepada orang yang tidak mempunyai antibodi b yaitu golongan darah B dan AB. Golongan darah AB hanya dapat diberikan kepada resipien darah AB, karena golongan darah lainnya mempunyai antibodi sehingga golongan darah AB biasa disebut resipien universal sedangkan golongan darah O disebut donor universal.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum mengenai Darah II dan V yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebgaai berikut:

  1. Hemolisa terjadi pada gelas arloji A (Aquadest + Darah), krenasi terjadi pada gelas arloji B (NaCl 3% + darah) dan gelas arloji C dalam keadaan kontrol tidak terjadi perubahan, karena darah tidak ditambahkan dengan larutan yang bersifat hipertonik maupun hipotonik.
  2. Pada percobaan tekanan osmotik eritrosit, pada tabung I terjadi hemolisis sempurna, pada tabung II terjadi hemolisa sederhana, dan pada tabung III terjadi hemolisa sederhana dan pada tabung IV larutan bersifat hipertonis dan pada tabung V terjadi krenasi sempurna.
  3. Berat jenis darah yang diperoleh pada kelompok I dengan sampel darah ayam potong yaitu 1,044, pada kelompok II sampel darah sapi sebesar 1,048, pada kelompok III sampel darah ayam petelur sebesar 1,044, pada kelompok IV sampel darah kambing sebesar 1,044 sedangkan pada kelompok V sampel darah ayam kampung sebesar 1,050.
  4. Pada pengamatan golongan darah yaitu golongan darah pada pria yang bernama Supardi Rahman bergolongan darah B dan pada wanita yang bernama Fadliah NS bergolongan darah A.

Saran

Untuk Laboratorium agar alat-alat yang sudah rusak sebaiknya diganti dengan yang lebih baik dan alat-alat yang tidak canggih sebaiknya diganti dengan alat-alat yang lebih canggih

Untuk asisten sebaiknya bimbingan pada saat praktikum berlangsung lebih

Ditingkatkan agar praktek dilaboratorium dapat berjalan dengan lancar agar lebih baik dari tahun sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonima, 2009. Hemolisa dan Krenasi. Http;//wikipedia.org/wiki/item hemolisa dan krenasi/03-02-2009/html

_______b, 2009. Golongan Darah. Http;//tedbio. Multiply.com/journal/item/Golongan darah/03-02-2009/html

_______c, 2009, Bahan Ajar Fisiologi Keperawatan,. Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, Makassar

_______d, 2009. Berat Jenis Darah. Http;//www.geocityes.com/mitra_sejati.html

_______e, 2009. Transfor Aktif Cairan Tubuh. Http;//tedbio. Multiply. Com /journal/ item /Transfor aktif/03-02-2009/html.

_______f, 2009. Osmosis dan Tekanan osmosis. Http;//www.geocities.com/imam_smanel /Osmosis/html

_______g, 2009. Difusi Cairan Tubuh. Http;//www.freewebs.com/difusi postmortem/html

Frandson, R.D. 1993. Anatomi dan Fisiologi keperawatan_edisi kedua. Gadjah Mada. University Press. Yogyakarta.

________. 1999. Anatomi dan Fisiologi Keperawatan_edisi ketiga. Gadjah Mada. University Press. Yogyakarta.

Gani. 1995. Neuro Fisiologi_edisi ketiga. Bagian ilmu faal. Fakultas Kedokteran. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Ganong. 2004. Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku Kedokteran:Jakarta.

Haffbrand. 2005. Biologi. Erlangga. Jakarta.

Mikrajuddin. 2004. Biologi 3SMU. Cempaka Mas. Yogyakarta.

Schoteillus. 1987. Hematology-Integrated Curriculum. Clinical Pathology Department Medical Faculty-Universitas Hasanuddin:Makassar

Siregar. 1995. Neuro Fisiologi_edisi kelima. Bagian ilmu faal. Fakultas Kedokteran. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Sonjaya, Herry. 2005. Bahan Ajar Fisiologi Ternak Dasar. Fakuiltas Peternakan-Universitas Hasanuddin:Makassar

Suryo. 1995. Biologi Edisi Ke Lima. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Syaifuddin. 2002. Fungsi Sistem Tubuh Manusia. Widya Medika. Jakarta.

Watson, R. 2002. Anatomi dan fisiologi untuk perawat_edisi ke dua. ECG. Jakarta.

Yusuf. 1995. Fisiologi Sel Dan Cairan Tubuh. Bagian Ilmu Faal. Fakultas Kedokteran. Universitas Hasanuddin. Makassar.